JAKARTA – Bagaimana cara orangtua mengatakan “tidak” pada anak tanpa membuat mereka tersinggung atau marah? Banyak anak sering bertingkah lucu dan menggemaskan, tetapi orangtua tetap perlu memberi batasan demi keselamatan dan kesejahteraan mereka. Anak belum mampu memahami risiko, sehingga orangtua harus tegas sekaligus bijak dalam memberikan penolakan.
Menurut Dr. Chandni Tugnait, seorang psikoterapis sekaligus pendiri dan direktur Gateway of Healing, mengatakan “tidak” kepada anak bukan berarti menolak atau tidak menyayangi mereka. Banyak orangtua merasa kata “tidak” terdengar keras dan takut membuat anak kecewa. Namun, menurutnya, jika disampaikan dengan cara yang jelas, hangat dan penuh empati, batasan justru menjadi bentuk kasih sayang. Batasan membantu anak belajar menghargai aturan, bersabar dan membangun ketahanan diri hingga tumbuh menjadi pribadi yang aman, mandiri, dan bertanggung jawab.
Ia juga menjelaskan bahwa bukan hanya kata “tidak” yang penting, tetapi bagaimana orangtua mengucapkannya. Nada bicara yang keras atau meremehkan bisa membuat anak merasa tidak didengar, sedangkan penolakan yang tenang, lembut dan konsisten akan membantu anak memahami bahwa ada batasan yang aman dan wajar.
Berikut 5 cara lembut mengatakan “tidak” pada anak:
1. Akui perasaan anak terlebih dahulu
Sebelum menolak, pahami emosi anak. Misalnya: “Mama tahu kamu ingin menambah waktu bermain karena itu menyenangkan, tapi sekarang sudah waktunya tidur.” Cara ini menunjukkan empati tanpa mengubah aturan.
2. Beri penjelasan singkat dan jelas
Anak tidak membutuhkan ceramah panjang. Contohnya: “Tidak, kita tidak bisa membeli mainan lagi hari ini karena kita sedang menabung untuk sesuatu yang penting.”
3. Alihkan dengan pilihan alternatif
Daripada mengatakan “tidak” secara langsung, tawarkan opsi positif. Misalnya: “Kita tidak bisa makan es krim sebelum makan malam, tapi kamu boleh pilih camilan sehat bersama mama.”
4. Tetap tenang dan konsisten
Anak pasti mencoba menawar atau memaksa, tetapi nada yang tetap tenang akan membuat mereka merasa aman. Jika Anda sudah menetapkan batasan, pertahankan keputusan tersebut. Konsistensi membangun rasa percaya.
5. Tunjukkan contoh komunikasi yang baik
Cara Anda menyampaikan penolakan menjadi contoh bagi anak dalam menetapkan batasan untuk orang lain. Nada bicara yang lembut namun tegas mengajarkan bahwa batasan tidak harus bersifat agresif.
Pada akhirnya, penting bagi orangtua untuk menegaskan bahwa kata “tidak” bukan bertujuan menolak kebahagiaan anak, melainkan menjaga keselamatan, kesehatan dan masa depan mereka. Saat penolakan dijelaskan dengan tenang dan penuh cinta, anak akan merasa dihargai, dipahami dan tetap aman secara emosional.

