JAKARTA – Sensitive people atau orang yang sangat sensitif biasanya merasakan emosi lebih dalam dibanding orang lain. Mereka mudah menangkap detail kecil dan cepat bereaksi terhadap perubahan di sekitar, sehingga hubungan terasa lebih bermakna namun juga dapat menimbulkan stres.
Seorang terapis hubungan, Kasturi M, baru-baru ini membagikan panduan yang dapat membantu Highly Sensitive People (HSP) menjalani hubungan dengan lebih percaya diri dan tenang. Berikut enam aturan sederhana yang perlu diikuti, seperti dilansir dari Hindustan Times, Senin (1/12/2025).
1. Pilih keamanan emosional, bukan intensitas
Orang sensitif sebaiknya mencari pasangan yang membuat mereka merasa rileks, aman dan dipahami. Meski hubungan yang penuh intensitas terasa mendebarkan, hal itu justru dapat memicu kecemasan. Para ahli menekankan bahwa keamanan emosional, bukan gairah berlebihan adalah fondasi yang membuat orang sensitif merasa stabil dalam hubungan.
2. Samakan gaya komunikasi
HSP sangat peka terhadap nada bicara, bahasa tubuh, hingga perubahan kecil saat berkomunikasi. Karena itu, mereka membutuhkan pasangan yang mampu berkomunikasi dengan jelas dan jujur, terutama ketika terjadi perbedaan pendapat. Alih-alih menjauh atau menutup diri, pasangan yang tepat bagi orang sensitif adalah mereka yang mau berdialog, memperbaiki kesalahpahaman, dan menjelaskan perasaan dengan terbuka.
3. Perhatikan latar belakang keluarga
Memahami pola asuh dan lingkungan keluarga pasangan dapat membantu hubungan berjalan lebih lancar. Orang yang tumbuh dalam keluarga yang mengabaikan perasaan atau bereaksi keras terhadap emosi mungkin kesulitan memahami kebutuhan emosional orang sensitif. HSP cenderung berkembang dengan pasangan yang menganggap kedalaman emosi mereka sebagai kekuatan, bukan masalah yang harus diperbaiki.
4. Utamakan kesesuaian gaya hidup
Selain nilai hidup yang selaras, rutinitas sehari-hari juga penting. Individu sensitif biasanya membutuhkan waktu tenang, pagi yang tidak terburu-buru dan ruang pribadi untuk memulihkan energi. Jika pasangannya lebih menyukai aktivitas tanpa henti, suasana bising atau jadwal sosial yang padat, mereka dapat merasa cepat lelah. Kesesuaian energi dan kebiasaan harian membantu menciptakan keharmonisan jangka panjang.
5. Bedakan antara proses bertumbuh dan rasa panik
Setiap hubungan pasti memiliki momen tidak nyaman. Orang sensitif sering salah mengartikannya sebagai tanda bahaya. Penting bagi HSP untuk membedakan antara sinyal peringatan yang nyata dan tantangan wajar dalam proses pertumbuhan hubungan. Terapi, jurnal dan mindfulness dapat membantu mereka memahami emosi secara lebih jernih.
6. Jangan mengejar orang yang tidak siap secara emosional
Orang sensitif kerap berusaha “memperbaiki” orang lain atau mengisi kekosongan emosional pasangannya. Namun para ahli memperingatkan bahwa hal ini dapat menciptakan hubungan satu arah. HSP berhak mendapatkan pasangan yang menunjukkan perhatian, usaha dan kehadiran emosional—bukan seseorang yang selalu menghindar atau tidak mau terlibat secara mendalam.

