ElementElement dan Karin.Kemayu hadirkan Bukan Sekadar Cinta, kolaborasi musik-narasi yang menyatu. (Foto: Element)

JAKARTA – Di tengah hiruk-pikuk industri hiburan yang sering mengejar sensasi, muncul sebuah kolaborasi lintas media dengan pendekatan yang lebih tenang dan mendalam. Element bersama penulis fiksi soulburn-realism, Karin.Kemayu, menghadirkan trilogi Book of Soundtrack: Bukan Sekadar Cinta, sebuah karya yang tidak hanya dibaca tetapi juga didengar dan dirasakan. Lagu-lagu dalam proyek ini tidak tercipta setelah novelnya selesai, melainkan tumbuh beriringan bersama tiap denyut kisahnya.

Pada bab pertama trilogi Bukan Sekadar Cinta, Element —yang digawangi Adhitya Pratama, Arya Prasetyo, Didi Riyadi, Fajar Putra, Ferdy Tahier, Ibank, dan Lucky Widja—merilis single “Cinta Tak Berbatas”, sebuah interpretasi musikal tentang cinta yang tak selalu mengikuti logika, tetapi layak diperjuangkan.

Lagu ini menjadi jembatan emosional antara cerita dalam novel dan pengalaman batin para pendengarnya. “Kami nggak sekadar bikin lagu. Waktu mendengar kisahnya, rasanya kayak ngaca ke hidup sendiri. Musik adalah cara kami memeluk itu semua,” ucap Didi dalam siaran pers, Jumat (14/11/2025).

Sementara itu, Karin.Kemayu melihat kolaborasi ini sebagai bentuk “literasi emosional yang bisa didengarkan”. Ia menulis bukan untuk menggurui, tetapi untuk mengajak pembaca dan pendengar mempertanyakan kembali banyak hal dalam hidup; stigma, tubuh, keluarga, hingga cinta dalam berbagai bentuk. “Setiap lagu menjadi bab yang bernyanyi, justru bukan sebagai pelengkap, tapi denyut yang menyatu dengan kisahnya,” katanya.

Buku pertama dari trilogi ini mengangkat tema yang jarang dibahas secara mendalam; cinta yang tumbuh antara seorang pria dan calon anak sambungnya, seorang remaja laki-laki dengan autisme dan mental retardasi. Kisah ini menyoroti perjalanan emosional seorang calon ayah yang belajar mencintai dan melindungi tanpa status formal dan tanpa ikatan darah. Tema “true love is not only by blood” menjadi inti dari seluruh perjalanan cerita.

Trilogi Bukan Sekadar Cinta juga menyentuh isu-isu sensitif dan kerap dihindari, mulai dari pernikahan siri, surrogacy, cinta beda usia, hingga perubahan hormonal perempuan menjelang menopause. Semua dituturkan melalui narasi yang lembut, berani, dan sarat penghormatan pada keberagaman, serta diperkaya oleh nuansa spiritualitas Bali dan konsep reinkarnasi.

Proyek ini turut menghadirkan video musik storytelling berjudul “KURO”, yang mengangkat kura-kura sebagai metafora cinta tak berbatas. Warna biru yang menyertainya menjadi simbol perjalanan pelan namun penuh ketekunan, sekaligus representasi anak-anak dengan kebutuhan khusus. KURO berdiri sebagai ikon cinta tanpa syarat, lembut namun kuat.

Kolaborasi ini juga dilengkapi suara emosional dari Vitalia lewat lagu “Teman Hidup”, yang mewakili tokoh Dayu—seorang ibu tunggal yang belajar kembali membuka hati di usia dewasa. Musik dan cerita dalam proyek ini tidak hanya saling melengkapi, tetapi juga menawarkan ruang bagi siapa pun yang pernah mencintai di luar batas norma. Sebuah pengingat bahwa rumah dapat tercipta dari hubungan yang dipilih, bukan hanya yang diwariskan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *