JAKARTA – Banyak orang percaya bahwa kebahagiaan sejati dimulai setelah menikah. Pandangan ini diperkuat oleh dongeng, drama romantis, hingga budaya yang menganggap pernikahan sebagai gerbang menuju hidup yang lebih indah. Namun secara ilmiah, apakah benar pernikahan bisa membuat seseorang lebih bahagia?
Selama ini pernikahan dipandang sebagai bagian penting dalam kehidupan sosial dan keluarga, termasuk harapan orangtua agar anak-anak mereka “mapan dan menetap.” Namun, apakah kebahagiaan benar-benar berasal dari ikatan pernikahan itu sendiri? Sebuah studi yang diterbitkan pada 18 Agustus 2025 meneliti hubungan antara kebahagiaan dan status pernikahan, seperti dilansir dari Hindustan Times, Minggu (16/11/2025).
Kebahagiaan Berawal dari Hubungan, Bukan Pernikahan
Menurut penelitian tersebut, peningkatan kebahagiaan justru terjadi jauh sebelum menikah — yaitu ketika hubungan mulai terjalin. Tinggal bersama pasangan juga memberikan tambahan kepuasan, tetapi puncak kebahagiaan umumnya terjadi pada fase awal hubungan saat komitmen mulai terbentuk.
Studi jangka panjang yang dilakukan di Jerman dan Inggris ini melibatkan partisipan yang semula lajang, kemudian menjalin hubungan, hingga akhirnya tinggal bersama. Hasilnya menunjukkan bahwa tingkat kepuasan hidup meningkat bahkan sebelum mereka resmi tinggal bersama dan mencapai puncaknya pada masa awal hidup bersama.
Apakah Pernikahan Menambah Kebahagiaan?
Temuan penelitian menyatakan bahwa pernikahan hanya memberikan sedikit tambahan kebahagiaan. Dulu, mungkin pernikahan menawarkan lonjakan kebahagiaan yang lebih besar, tetapi kini hasilnya lebih stabil dan tidak jauh berbeda dengan ketika hubungan pertama kali dimulai.
Makna dari Temuan Penelitian
Kesimpulannya, kebahagiaan lebih banyak berasal dari rasa dicintai dan menjalin hubungan yang sehat, bukan sekadar menikah. Hal ini terutama berlaku di negara atau budaya yang menerima hubungan tinggal bersama sebelum menikah.
Penelitian ini juga bisa menjadi perspektif baru bagi mereka yang merasa terburu-buru menikah sebelum usia tertentu. Pernikahan mungkin merupakan milestone penting secara sosial, namun bukan satu-satunya faktor penentu kebahagiaan. Fokus utama seharusnya adalah membangun hubungan yang sehat, penuh cinta dan saling menghargai sejak awal, karena mengucapkan “I do” tidak serta-merta meningkatkan kebahagiaan secara signifikan.

