JAKARTA – Serangan jantung sering dianggap terjadi secara tiba-tiba dan mendadak. Namun menurut dokter, kondisi ini sebenarnya merupakan hasil dari proses panjang yang berlangsung diam-diam di dalam pembuluh darah selama bertahun-tahun.
Pemahaman ini disampaikan oleh Dr Asseem Dhall, Direktur dan Kepala Departemen Ilmu Jantung di ISIC Multispecialty Hospital, India. Ia menjelaskan bahwa serangan jantung bukanlah kejadian instan, melainkan akumulasi dari berbagai faktor yang terjadi secara perlahan di dalam arteri.
Menurutnya, proses ini dimulai dari kerusakan pada lapisan dalam arteri yang merupakan jaringan hidup. Kerusakan tersebut dapat dipicu oleh tekanan darah tinggi, kadar kolesterol yang tinggi, kebiasaan merokok, serta gula darah yang tidak terkontrol. Seiring waktu, tubuh mencoba memperbaiki kerusakan ini dengan menumpuk material lemak di dinding arteri.
“Arteri bukan hanya pipa kosong berisi darah. Di dalamnya ada lapisan hidup yang bisa mengalami kerusakan seiring waktu,” katanya, dikutip Celebdaily.id dari Hindustan Times, Senin (13/4/2026).
Penumpukan lemak tersebut kemudian mengeras dan membentuk plak melalui proses yang dikenal sebagai aterosklerosis. Proses ini bahkan dapat dimulai sejak usia muda, sekitar usia 20-an, dan sering kali tidak menimbulkan gejala apa pun. Akibatnya, banyak orang tidak menyadari bahwa pembuluh darah mereka perlahan mengalami penyempitan.
BACA JUGA:
5 Pola Sakit Kepala Wajib Diwaspadai, Bisa Jadi Tanda Stroke hingga Meningitis
“Tubuh mencoba memperbaiki kerusakan dengan menumpuk material lemak di dinding arteri. Lama-kelamaan, material ini mengeras menjadi plak dalam proses yang disebut aterosklerosis,” ucapnya.

Dr Dhall menegaskan bahwa penyempitan arteri bukan satu-satunya penyebab utama serangan jantung. Risiko terbesar justru muncul ketika plak yang terbentuk di dalam arteri pecah secara tiba-tiba. Saat hal ini terjadi, tubuh akan membentuk gumpalan darah di lokasi tersebut. Jika arteri sudah menyempit, gumpalan ini dapat sepenuhnya menghambat aliran darah ke jantung.
Kondisi tersebut membuat jantung kekurangan oksigen, sehingga jaringan otot jantung mulai rusak. Yang lebih mengkhawatirkan, proses ini bisa terjadi bahkan ketika penyempitan arteri belum terlalu parah. Artinya, stabilitas plak menjadi faktor yang sama pentingnya dengan ukuran penyempitan pembuluh darah.
Faktor Pemicu
Lebih lanjut, Dr Dhall menjelaskan bahwa sejumlah faktor seperti kolesterol LDL tinggi, tekanan darah yang tidak terkontrol, diabetes, stres kronis, kurang aktivitas fisik, serta kelebihan berat badan dapat mempercepat pembentukan plak dan meningkatkan risiko pecahnya plak tersebut. Faktor-faktor ini sering kali berkembang tanpa gejala yang jelas, sehingga kondisi pembuluh darah terus memburuk tanpa disadari.
Meski demikian, tubuh sebenarnya dapat memberikan sinyal peringatan sebelum serangan jantung terjadi. Gejala seperti kelelahan tanpa sebab yang jelas, nyeri dada saat beraktivitas, sesak napas, serta rasa nyeri yang menjalar ke punggung atas, lengan, atau rahang kerap diabaikan. Padahal, tanda-tanda ini bisa menjadi indikasi adanya gangguan serius pada jantung.
BACA JUGA:
5 Alasan Wajib Jalan Kaki 30 Menit Tiap Hari, Cegah Serangan Jantung
Karena itu, ia menekankan pentingnya kesadaran dan pencegahan sejak dini. Serangan jantung bukanlah kejadian yang datang tiba-tiba, melainkan hasil dari proses panjang yang sebenarnya dapat dikendalikan.

“Kita bisa mengurangi pembentukan plak dan menjaga kesehatan pembuluh darah dengan mengontrol tekanan darah dan kolesterol, rutin berolahraga, makan sehat, serta tidak merokok,” katanya.
Selain perubahan gaya hidup, pemeriksaan kesehatan secara rutin seperti pengecekan tekanan darah, kadar kolesterol dan gula darah juga sangat penting. Langkah ini membantu menjaga kesehatan jantung sekaligus mencegah risiko serangan jantung di masa depan.

