JAKARTA – Kepergian sosok yang dikenal sebagai Men Djenggo meninggalkan duka mendalam bagi dunia kuliner Indonesia. Perempuan bernama asli Ni Ketut Ngasti itu tutup usia pada Sabtu (9/5/2026), di usia 90 tahun.
Dari tangan sederhana seorang ibu muda di kawasan Pesanggaran, Denpasar, Bali, lahirlah salah satu warisan kuliner paling ikonik di Indonesia. Kuliner tersebut kini dikenal luas dengan nama Nasi Jinggo atau Nasi Djenggo.
Pada era 1970-an, Men Djenggo mulai meracik nasi bungkus sederhana untuk para pekerja, pemancing, hingga kru Super Tanki Pertamina di sekitar Pelabuhan Benoa. Dengan lauk sederhana bercita rasa khas dan harga terjangkau, nasi bungkus buatannya perlahan menjadi bagian dari keseharian masyarakat Bali.
Tidak ada yang menyangka sajian kecil yang dijual di kawasan pelabuhan itu kelak menjelma menjadi kuliner legendaris. Nasi Jinggo kemudian dikenal sebagai salah satu identitas kuliner khas Pulau Dewata.
Nama “Djenggo” sendiri ternyata memiliki kisah yang hangat dan penuh cinta keluarga. Suami Men Djenggo, Buddy Alexie Bloem, seorang mantan tentara KNIL yang kemudian bergabung menjadi TNI sejak 1945, sangat menggemari film koboi Amerika berjudul Django karya sutradara Sergio Corbucci yang tayang pada 1966 dan dibintangi Franco Nero.
Karena kekagumannya pada karakter tersebut, Buddy kerap meninabobokan putra kecil mereka, Henry Alexie Bloem, dengan lagu sederhana berbunyi, “Djenggo jago tembak… Djenggo jago tembak…” Panggilan itu melekat begitu erat hingga keluarga dan tetangga sekitar rumah di Sesetan ikut memanggil Henry kecil dengan nama “Djenggo”.
Dalam tradisi masyarakat Bali, seorang ibu kerap dipanggil berdasarkan nama anaknya. Ni Ketut Ngasti pun kemudian dikenal sebagai Meme Djenggo atau Men Djenggo, yang berarti “ibunya Djenggo”. Dari sanalah masyarakat mulai menyebut nasi bungkus racikannya sebagai Nasi Men Djenggo, yang kemudian populer dengan nama Nasi Djenggo atau Nasi Jinggo. Kisah ini diceritakan Chef Henry Alexie Bloem kepada Celebdaily.id saat gelaran Chef Expo 2026 di NICE PIK 2.
Warisan Men Djenggo untuk Kuliner Indonesia
Lebih dari sekadar kuliner, Men Djenggo meninggalkan dua warisan besar bagi Indonesia. Selain melahirkan sajian nasi bungkus khas Bali yang kini dikenal hingga mancanegara, ia juga membesarkan sosok Henry Alexie Bloem atau yang lebih dikenal sebagai Chef Bloem, tokoh penting dalam dunia kuliner Indonesia.
Chef Bloem tercatat dua kali memimpin Indonesian Chef Association dan dikenal aktif memperkenalkan kuliner Nusantara di tingkat internasional. Dalam beberapa tahun terakhir, ia juga berkiprah sebagai chef di sebuah restoran di Belanda yang konsisten mendapatkan ulasan Michelin Star.
Dedikasi Chef Bloem dalam melestarikan dan menduniakan masakan Indonesia menjadi cerminan nilai yang diwariskan sang ibu, yaitu kesederhanaan, kerja keras dan ketulusan dalam menyajikan makanan untuk banyak orang. Dari dapur kecil di kawasan Benoa, Men Djenggo telah menorehkan jejak yang melampaui zamannya.
Kini, sosok perempuan sederhana itu telah pergi menghadap Sang Hyang Widhi. Namun aroma hangat Nasi Jinggo yang akrab di lidah masyarakat Bali akan terus menghidupkan kenangan tentang dirinya. Men Djenggo bukan hanya pelopor sebuah kuliner legendaris, tetapi juga simbol kasih seorang ibu yang warisannya hidup dalam rasa, cerita dan perjalanan kuliner Indonesia.
Selamat jalan Men Djenggo.

