EmosiAda cara khusus meredam emosi. (Foto: Magnific)

JAKARTA – Mudah merasa kesal atau emosi dalam menghadapi berbagai situasi memang kerap terjadi di tengah kehidupan modern yang penuh tekanan. Terapis asal Florida, Jeffrey Meltzer, membagikan tiga cara yang dapat dilatih untuk membantu seseorang menjadi pribadi yang lebih tenang, termasuk saat menghadapi situasi sulit.

Di dunia modern, ketenangan semakin terasa langka. Banyak hal, mulai dari orang-orang di sekitar hingga berbagai konten di media sosial, kerap mendorong seseorang untuk merasa bersemangat, bahkan mudah tersulut emosi, terkadang dengan alasan yang memang dapat dipahami.

Namun, kekuatan pikiran yang tenang dan damai tidak bisa diremehkan. Kondisi tersebut tidak hanya dapat membantu meningkatkan kualitas hidup seseorang, tetapi juga memberikan dampak positif bagi orang-orang di sekitarnya.

Menurut Jeffrey Meltzer, menjadi pribadi yang lebih tenang bukan sesuatu yang mustahil. Ada tiga hal yang dapat dilakukan dan dilatih secara konsisten, sebagaimana dikutip Celebdaily.id dari Hindustan Times, Minggu (9/8/2026).

1. Melihat Masalah dari Sudut Pandang yang Tepat

Jeffrey menjelaskan bahwa banyak reaksi berlebihan terjadi karena otak membuat sebuah situasi sulit terasa jauh lebih besar daripada kenyataannya. Ketika menghadapi sesuatu yang membuat emosi meningkat, seseorang dapat bertanya kepada diri sendiri apakah masalah tersebut masih akan berarti dalam satu minggu, satu bulan, atau satu tahun mendatang.

“Ini bukan tentang berpura-pura bahwa tidak ada hal yang penting, tetapi tentang menyadari perbedaan antara sebuah peristiwa yang tidak menyenangkan dan sebuah peristiwa yang bersifat bencana. Mempertahankan perspektif ini memungkinkan Anda merespons situasi yang sebenarnya, bukan skenario terburuk yang diciptakan oleh pikiran Anda,” katanya.

2. Latih Diri untuk Tetap Tenang Sebelum Membutuhkannya

Menurut Jeffrey, seseorang tidak bisa berharap tiba-tiba mampu bersikap tenang ketika menghadapi percakapan sulit jika sebelumnya tidak pernah melatihnya. Ketenangan merupakan keterampilan yang dapat diperkuat melalui latihan.

Ia memberikan contoh latihan bagi seseorang yang cenderung defensif ketika menerima kritik. “Jika Anda cenderung bersikap defensif ketika dikritik, lakukan simulasi situasi tersebut bersama terapis atau teman yang dipercaya. Berlatihlah untuk berhenti sejenak, mendengarkan dan merespons dengan tenang,” katanya.

Jeffrey menambahkan bahwa latihan tersebut dapat membantu seseorang lebih mudah mengakses respons yang tenang ketika menghadapi situasi nyata.

“Berlatih membuat Anda lebih mudah mengakses respons tenang tersebut dalam situasi kehidupan nyata, karena ketenangan adalah sebuah keterampilan yang dapat Anda perkuat secara aktif,” ucapnya.

3. Tenangkan Tubuh Sebelum Memberikan Respons

Jeffrey menjelaskan bahwa seseorang akan lebih sulit berpikir jernih ketika jantung berdebar, otot menegang dan napas menjadi cepat. Kondisi fisik tersebut merupakan tanda bahwa tubuh sedang berada dalam keadaan terpicu. Karena itu, ia menyarankan untuk menenangkan tubuh terlebih dahulu sebelum bertindak atau berbicara.

“Sebelum bertindak atau berbicara, perlambat pernapasan Anda—cobalah menarik dan mengembuskan napas masing-masing selama lima detik, beberapa kali. Rilekskan bahu dan lepaskan ketegangan pada rahang,” ucapnya.

Menurut Jeffrey, seseorang mungkin tidak selalu dapat mengendalikan reaksi emosional pertama yang muncul. Namun, dengan menenangkan tubuh secara fisik, seseorang dapat memiliki kendali yang lebih besar terhadap tindakan selanjutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *