JAKARTA – Film Memburu Pemangsa tidak hanya menawarkan ketegangan melalui perpaduan genre horror, crime dan action, tetapi juga mengangkat isu kekerasan terhadap anak. Melalui kisah empat jurnalis perempuan yang memburu predator anak, film ini mengajak penonton untuk lebih peka dan berani merespons ketika menemukan kasus serupa.
Film produksi Sinemaku Pictures tersebut akan tayang mulai 24 September 2026 di seluruh bioskop Indonesia. Sebelumnya, Memburu Pemangsa telah melakukan Nonton Duluan di Jakarta, Bekasi, Bogor, Depok, Yogyakarta, Medan dan Makassar dengan antusiasme tinggi dari penonton.
Prilly Latuconsina yang menjadi salah satu pemeran utama melihat film ini sebagai ruang untuk mengajak masyarakat lebih peduli terhadap persoalan kekerasan seksual pada anak. Menurutnya, persoalan tersebut bukan hanya tentang kurangnya informasi, tetapi juga adanya budaya diam di tengah masyarakat.
Prilly Latuconsina: Isu Ini Perlu Respons yang Tepat
Prilly mengatakan, informasi mengenai kekerasan seksual terhadap anak sebenarnya sudah banyak diberitakan. Namun, masyarakat masih menghadapi persoalan lain, yakni kebingungan mengenai langkah yang harus dilakukan ketika menemukan kasus tersebut.
“Saya melihat isu kekerasan seksual pada anak yang terjadi di Indonesia bukan karena pemberitaan minim, informasi sudah banyak tapi kita juga perlu melihat ada budaya diam. Di beberapa lingkungan, seperti di rumah atau ketika kita membaca informasi tersebut kita bingung harus melakukan apa sehingga itu dibiarkan saja. Jadi viral sehari, dua hari, tidak ada penanganan yang tepat. Padahal harus ada aksi, ketika ada berita-berita tersebut. Isu ini perlu bantuan kita semua untuk bersuara dan memberikan respons yang tepat,” kata Prilly Latuconsina dalam sesi konferensi pers di Epicentrum XXI, Kuningan, Jakarta, Senin (21/9/2026).

Pesan tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam Memburu Pemangsa. Film ini membawa ancaman nyata terhadap anak ke dalam kisah perburuan empat jurnalis perempuan yang berusaha mengungkap kasus gelap tersebut.
Dalam sinopsisnya, empat anak menghilang dari satu kawasan dan kemudian ditemukan dalam kondisi termutilasi. Ketika waktu semakin menipis dan ada anak lain yang terancam, Agnes, pemimpin redaksi Daily Wave News, terseret ke dalam kasus tersebut setelah menyaksikan seorang anak diculik tepat di depan matanya.
Agnes kemudian bersama tiga jurnalis perempuan lainnya, Cia, Brina dan Anya, melakukan investigasi. Mereka juga ditemani seorang polisi bernama Petra dan akhirnya dihadapkan pada dua pilihan, yakni mundur untuk menyelamatkan diri atau mempertaruhkan nyawa demi anak-anak yang tidak pernah mampu dilindungi.
Para Pemain Berharap Film Jadi Ruang Kesadaran
Isu yang diangkat dalam film juga diperkuat melalui proses pendalaman karakter para pemain. Yasamin Jasem mengungkapkan bahwa para pemeran sempat bertemu dengan Komnas Perlindungan Anak untuk membantu memahami persoalan yang menjadi bagian dari cerita.
“Aku dan Anya memiliki kedekatan. Anya adalah jurnalis yang melakukan riset dan memiliki minat pada demonologi. Sementara aku juga banyak menonton documentary crime dan berbau cult. Kami para pemeran juga bertemu dengan Komnas Perlindungan Anak, yang menurutku menjadi pemantik untuk menyuarakan isu yang kami angkat dan semoga semua orang bisa menjadi lebih baik setelah menonton film ini,” ujar Yasamin Jasem.
Laura Basuki juga berharap film tersebut tidak berhenti sebagai hiburan, tetapi dapat membuka ruang diskusi bagi masyarakat. Menurutnya, penting bagi orang-orang yang mengalami atau mengetahui kejadian serupa untuk memahami ke mana mereka dapat meminta bantuan.
“Semua cinematic experience akan kalian rasakan di film ini, saat horror-crime-action menyatu, dan ini pengalaman yang baru bagiku. Semoga film ini juga bisa memberikan ruang diskusi untuk orang-orang, agar semakin menyadarkan mereka harus meminta bantuan ke mana ketika hal-hal serupa terjadi pada mereka,” ujar Laura Basuki.
Melalui perpaduan ketegangan dan isu sosial, Memburu Pemangsa membawa penonton lebih dekat dengan persoalan kekerasan terhadap anak. Film ini diharapkan dapat menjadi pemantik agar masyarakat tidak hanya menyaksikan sebuah kasus, tetapi juga memahami pentingnya kepedulian dan respons yang tepat.

