JAKARTA – The Papandayan Jazz Fest (TPJF) 2026 kembali hadir pada 3-4 Oktober 2026 di The Papandayan Hotel Bandung dengan membawa lebih banyak program berbasis jazz dan kolaborasi. Memasuki tahun ke-11, TPJF 2026 mengusung tema “Sound to the Soul” dengan sekitar 70 persen program dan penampil berasal dari spektrum jazz, mulai dari traditional jazz, contemporary jazz, fusion, hingga eksplorasi lintas genre.
Selama lebih dari satu dekade, TPJF tidak hanya menjadi panggung pertunjukan musik. Festival ini juga menjadi bagian dari perjalanan panjang TP Jazz dalam membangun ruang bagi musisi, komunitas dan penikmat jazz untuk bertemu, berkolaborasi, serta berkembang bersama.
Melalui berbagai program sepanjang tahun seperti TP Jazz on The Weekend, The Papandayan International Online Jazz Competition (TPJC), TP Jazz Universe, hingga TP Podcast Resonance, TP Jazz terus berupaya menjaga keberlangsungan musik jazz. Upaya tersebut sekaligus dilakukan untuk memperluas jangkauan musik jazz kepada masyarakat.
TPJF 2026 Buka Ruang untuk Generasi Baru
Komitmen tersebut diwujudkan melalui kurasi festival yang semakin kuat dengan sekitar 70 persen program dan penampil yang berasal dari spektrum jazz. Ragam tersebut mencakup traditional jazz, contemporary jazz, fusion, hingga berbagai eksplorasi lintas genre yang berkembang saat ini.
“Menjaga identitas jazz dan memperluas audiens jazz merupakan dua hal yang selaras. Keduanya harus berjalan beriringan. Karena itu pada tahun ke-11 ini, kami senantiasa memperkuat fondasi jazz TPJF, di samping menghadirkan berbagai bentuk kolaborasi yang membuka ruang lebih luas bagi banyak orang untuk datang, menikmati festival dan diharapkan pada akhirnya semakin dekat dengan musik jazz itu sendiri,” ucap Bobby Renaldi, Founder TP Jazz Management dalam sesi konferensi pers di The Club-Djakarta Theatre, Jakarta, Selasa (22/9/2026).
Ia kembali menambahkan, “Bagi kami, keberlanjutan musik jazz tidak cukup hanya dengan dirayakan saja, tetapi juga harus terus-menerus diperkenalkan pada generasi dan para pendengar baru.”
Salah satu program yang memperlihatkan semangat regenerasi tersebut adalah kolaborasi Barry Likumahuwa bersama para pemenang The Papandayan International Online Jazz Competition (TPJC). Pertemuan musisi jazz berpengaruh dengan generasi baru ini menjadi simbol regenerasi sekaligus keberlanjutan ekosistem jazz yang terus dibangun TP Jazz.
TPJF 2026 juga menyediakan ruang edukasi melalui TP Stage. Program ini menghadirkan Master Class with Sri Hanuraga pada hari pertama dan Master Class by Tommy Pratomo pada hari kedua, disertai sejumlah penampilan musisi dan talenta lainnya.
Kehadiran program tersebut menunjukkan bagaimana TPJF tidak hanya menghadirkan musisi untuk tampil di atas panggung. Festival ini juga membuka ruang bagi proses belajar, regenerasi, serta pertemuan antara musisi dan komunitas.
Jazz Bertemu Kolaborasi Lintas Genre
TPJF 2026 turut menghadirkan sejumlah proyek kolaboratif eksklusif. Tribute to Koes Plus menghadirkan The Gentlemen’s Club yang terdiri dari Adikara, Bilal Indrajaya dan Teza Sumendra untuk membawakan interpretasi baru terhadap karya-karya legendaris Koes Plus.
Ada pula A Night of Frank Sinatra yang mempertemukan Dwiki Dharmawan, Dira Sugandi, Dirly Dave dan Bandung Jazz Orchestra. Proyek ini membawa karya-karya ikonik Frank Sinatra melalui aransemen dan interpretasi yang segar.
Sementara Freedom Jazz Society mempertemukan Greybox, Jevin Julian, Kenny Gabriel dan Winky Wiryawan bersama Rinni. Untuk pertama kalinya di TPJF, kultur DJ dan semangat improvisasi jazz dipertemukan dalam satu panggung.
Dengan tema “Sound to the Soul”, TPJF 2026 membawa jazz bukan hanya sebagai pertunjukan musik. Festival ini juga menjadi ruang pertemuan antara warisan musik, generasi baru, edukasi, komunitas dan eksplorasi lintas genre.

