Empat Musim PertiwiPara pemain, sutradara dan pendukung film Empat Musim Pertiwi usai konferensi pers. (Foto: Poplicists Publicist/Arman Febryan)

JAKARTA – Film Empat Musim Pertiwi karya sutradara Kamila Andini dan produser Ifa Isfansyah menghadirkan perjalanan emosional seorang perempuan yang kembali ke kampung halamannya setelah 20 tahun dipenjara. Dibintangi Putri Marino sebagai Pertiwi, film ini memadukan drama, suspense thriller, misteri, hingga sci-fi untuk menghadirkan pengalaman sinematik yang imersif.

Film produksi Forka Films tersebut membawa penonton menyelami berbagai musim dalam kehidupan Pertiwi, mulai dari luka dan trauma hingga proses menemukan kembali kekuatan dalam dirinya. Lanskap alam Bromo menjadi bagian penting dalam membangun suasana film, berpadu dengan tata busana bernuansa cowboy western yang membuat perjalanan Pertiwi terasa seperti sebuah pengembaraan panjang.

Empat Musim Pertiwi tidak sekadar bercerita tentang seseorang yang kembali ke sebuah tempat. Film ini juga mempertanyakan apa yang dapat ditemukan seseorang ketika berani kembali menghadapi sesuatu yang pernah ditinggalkan.

Kamila Andini Angkat Trauma Kolektif

Kamila Andini mengatakan kisah Pertiwi tidak dapat dilepaskan dari persoalan ketidakadilan dan trauma kolektif. Namun, perjalanan tersebut juga memperlihatkan bagaimana seseorang yang berada dalam kondisi rapuh dapat menemukan kekuatan sekaligus menjadi sumber kekuatan bagi orang lain.

“Apa yang terjadi dengan Pertiwi bicara tentang ketidakadilan. Ada trauma-trauma kolektif. Namun dari film ini, dengan mengikuti Pertiwi, kita bisa sedikit melihat bagaimana bahkan dengan kerapuhan, seseorang juga bisa menemukan kekuatan-kekuatan atau bahkan menjadi kekuatan juga untuk orang lain. Bicara tentang trauma kolektif, tapi juga bicara tentang collective power yang bisa didapatkan dari perjalanan Pertiwi,” ujar penulis dan sutradara Kamila Andini dalam sesi konferensi pers di Jakarta, Jumat (2/10/2026).

Para pemain, sutradara dan pendukung film Empat Musim Pertiwi usai konferensi pers. (Foto: Poplicists Publicist/Arman Febryan)
Para pemain, sutradara dan pendukung film Empat Musim Pertiwi usai konferensi pers. (Foto: Poplicists Publicist/Arman Febryan)

Dari sisi kreatif, film ini menjelajahi sejumlah genre untuk membangun pengalaman menonton yang berbeda. Pendekatan tersebut mencakup drama suspense thriller, misteri, hingga sci-fi.

Produser Ifa Isfansyah mengatakan pendekatan kreatif tersebut dirancang untuk membuat penonton tidak hanya menyaksikan perjalanan Pertiwi, tetapi juga ikut merasakan pengalaman emosional yang dibangun dalam film.

“Empat Musim Pertiwi sudah melalukan special screening dan saya merasakan dampak emosional yang di alami penonton. Di balik cinematic experience yang imersif, penonton merasa relate dengan situasi saat ini. Saya harap film ini bisa menyadarkan pentingnya untuk kita semua saling menjaga” ujar produser Ifa Isfansyah.

Putri Marino Dalami Karakter Pertiwi

Putri Marino memerankan Pertiwi sebagai perempuan muda yang memiliki pengalaman hidup jauh melampaui usianya. Untuk mendalami karakter tersebut, Putri bahkan memilih tidak mengambil proyek lain selama menjalani proses persiapan dan pengerjaan film.

“Karakter Pertiwi sebenarnya adalah perempuan muda, tapi jiwanya sebenarnya sudah melampaui usianya. Pertiwi telah mengalami banyak hal dalam hidupnya, dan salah satu pintu masuk aku mengisi karakter Pertiwi adalah dengan membaca buku, untuk memahami apa yang dirasakan dan dialami Pertiwi,” ujar Putri Marino.

Bagi Putri, kepulangan Pertiwi bukan sekadar perjalanan kembali ke tempat yang pernah ditinggalkan. Kepulangan tersebut menjadi proses untuk berhadapan dengan masa lalu sekaligus menemukan kembali dirinya.

“Pertiwi adalah perempuan yang harus berhadapan dengan masa lalu dan menemukan kembali dirinya. Kepulangan tidak selalu berarti kembali menjadi orang yang sama,” kata Putri.

Film ini turut dibintangi Arya Saloka, Christine Hakim, Hana Malasan, Shofia Shireen, Nagra Pakusadewo, Dwika Pradnyana, Maryam Supraba, Hanna Aretha, Totos Rasiti, Iswadi Pratama, Hargi Sundari, Ayub Antoh, dan almarhum Donikus.

Dengan lanskap Bromo yang menjadi bagian penting dalam visual film, perjalanan Pertiwi juga membawa penonton masuk ke dalam misteri dan perasaan resah yang muncul sepanjang cerita. Empat Musim Pertiwi dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 8 Oktober 2026.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *