JAKARTA – Penelitian terbaru dari Universitas Yale mengungkap bahwa kurangnya perhatian atau pengasuhan di masa awal kehidupan, meskipun ringan, dapat berdampak serius pada perkembangan otak, emosi dan kemampuan anak mengelola stres. Temuan ini menegaskan pentingnya kasih sayang dan pola asuh yang konsisten sejak usia dini untuk mendukung tumbuh kembang yang sehat.
Dalam studi ini, para peneliti menggunakan model tikus betina yang diberikan bahan sarang terbatas. Kondisi tersebut membuat para induk tikus memberikan perawatan yang lebih sedikit kepada anak-anaknya. Akibatnya, anak-anak tikus menunjukkan peningkatan kadar hormon stres, pertumbuhan yang terhambat, serta perilaku yang menyerupai kecemasan.
Tim peneliti memantau perilaku pengasuhan ini selama 24 jam penuh untuk melihat bagaimana ketidakkonsistenan dalam perawatan memengaruhi perkembangan anak dari waktu ke waktu. Penulis utama, Arie Kaffman, menjelaskan bahwa penelitian sebelumnya pada tikus telah mengaitkan lemahnya pengasuhan dengan meningkatnya respons stres dan gangguan ikatan emosional, namun hanya pada satu kelompok usia.
Dalam penelitian baru ini, pemantauan dilakukan lebih mendalam dengan rekaman video 24 jam yang menunjukkan bahwa gangguan pengasuhan memengaruhi perilaku keterikatan pada berbagai tahap perkembangan anak. Hasilnya menunjukkan bahwa anak tikus mulai menunjukkan gangguan ikatan sejak usia satu minggu. Mereka lebih jarang bersuara saat dipisahkan dari induknya, menghindar mendekat pada usia dua minggu, dan memperlihatkan tanda-tanda kecemasan pada minggu ketiga.
Meskipun beberapa perilaku keterikatan tetap stabil, sebagian besar mengalami gangguan, menandakan bahwa pengalaman buruk di awal kehidupan dapat berdampak jangka pendek maupun panjang. Kaffman menekankan bahwa pengasuhan tidak harus sempurna untuk mendukung perkembangan anak.
“Ada batas tertentu seberapa buruk kualitas pengasuhan yang dapat memengaruhi perilaku anak. Artinya, orangtua tidak perlu menjadi sempurna—yang penting memberikan perawatan yang cukup dan konsisten,” ujarnya, dikutip dari Female First, Rabu (5/11/2025).
Temuan ini menunjukkan bahwa pola pengasuhan yang tidak teratur atau tidak memadai dapat memengaruhi kesehatan emosional dan fisiologis anak. Penelitian ini juga menyoroti pentingnya pemantauan perilaku di lingkungan alami dan penggunaan alat genetika untuk memahami mekanisme otak di balik gangguan ikatan emosional.
Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa pengasuhan yang konsisten dan cukup selama masa perkembangan kritis merupakan kunci bagi pertumbuhan sehat, kemampuan mengatur stres, serta kestabilan emosi. Bahkan, jeda singkat dalam pengasuhan dapat menimbulkan dampak nyata terhadap perilaku dan perkembangan otak, meski sebagian respons keterikatan masih mampu bertahan menghadapi tekanan.

