JAKARTA – Penelitian terbaru mengungkap bahwa orangtua dari generasi Z lebih memprioritaskan pola asuh yang berfokus pada pemulihan dan pemutusan rantai trauma antar-generasi dibandingkan generasi sebelumnya. Sebanyak 41% dari mereka menyatakan bahwa tujuan utama dalam mengasuh anak adalah menghentikan pola pengasuhan negatif yang pernah mereka alami di masa lalu.
Survei nasional yang dilakukan oleh Talker Research atas nama Kiddie Academy ini melibatkan 2.000 orangtua dengan anak berusia 0 hingga 6 tahun. Hasilnya menunjukkan bahwa orangtua Gen Z cenderung menolak pola pengasuhan yang merugikan dari masa kecil mereka dan lebih memilih pendekatan yang berpusat pada penyembuhan emosional dan kesadaran diri.
Wakil Presiden Pendidikan Kiddie Academy, Joy Turner, menjelaskan bahwa penelitian ini menunjukkan banyak orangtua yang kini lebih reflektif terhadap cara mereka mendidik anak.
“Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah mengalami situasi menegangkan dengan anak, orangtua menyadari bahwa mereka akan menangani sekitar 55% dari situasi tersebut dengan cara berbeda. Ini menegaskan bahwa tidak ada satu gaya pengasuhan yang sempurna, terutama karena 84% orangtua mengaku gaya pengasuhan mereka berubah seiring pertumbuhan anak,” ujarnya.
Selain berfokus pada pemutusan rantai trauma, 54% orangtua Gen Z juga menekankan pentingnya mempersiapkan anak menghadapi dunia nyata. Sebagai perbandingan, 62% orangtua milenial lebih menekankan pada dukungan emosional dan mental.
Sementara itu, tren gentle parenting atau pola asuh lembut—yang menekankan empati dan batasan—menurun popularitasnya. Hanya 32% orangtua Gen Z yang secara rutin menerapkannya, meski 43% menilai metode ini tetap efektif dalam situasi tertentu, dan 38% lainnya berpendapat bahwa pendekatan ini sebaiknya dikombinasikan dengan gaya lain.
Secara umum, 85% orangtua sepakat bahwa tidak ada satu gaya pengasuhan yang cocok untuk semua anak. Hasil survei juga menunjukkan variasi dalam cara orangtua menghadapi perilaku anak, seperti 48% yang memilih membantu anak membersihkan kekacauan sambil memberikan penjelasan, dan 32% lainnya meminta anak bertanggung jawab dengan membersihkan sendiri.
Selain itu, muncul tren baru yang disebut “FAFO parenting”, yaitu pendekatan yang menekankan pada konsekuensi nyata atas tindakan anak. “Ketika kita melindungi anak dari segala hal, mereka justru kesulitan mengembangkan rasa percaya diri dan ketangguhan, serta tidak mampu berfungsi dengan baik di kemudian hari karena belum pernah menghadapi tantangan dan berhasil mengatasinya,” ucap Psikolog Dr Terri Mortensen, dikutip dari Female First, Rabu (5/11/2025).

