JAKARTA – India dikenal sebagai “ibu kota diabetes dunia” karena jumlah penderitanya terus meningkat setiap tahun. Banyak orang mengira diabetes hanya disebabkan oleh pola makan yang buruk atau konsumsi gula berlebih, padahal akar masalahnya jauh lebih dalam. Gaya hidup pasif, kurangnya aktivitas fisik, dan berkurangnya massa otot menjadi faktor besar yang sering diabaikan dalam meningkatnya kasus diabetes.
Pelatih kebugaran dan kreator konten, Nitin Maurya, menyoroti satu senjata alami tubuh yang sering diremehkan dalam melawan diabetes — massa otot. Ia menjelaskan bahwa membangun dan mempertahankan otot sangat penting dalam mengatur metabolisme glukosa, sehingga dapat membantu mencegah dan mengendalikan diabetes secara efektif.
Dalam sebuah video yang dibagikan di Instagram pada 26 Juni, Nitin menegaskan, “Kamu tidak perlu sempurna, kamu hanya perlu menjadi lebih kuat. Setiap gerakan yang kamu lakukan adalah langkah menjauh dari penyakit dan mendekat pada kekuatan. Tubuhmu bisa sembuh, tapi butuh bantuanmu — butuh gerakan, butuh perlawanan, butuh otot.”
Menurut Nitin, otot adalah senjata paling ampuh melawan diabetes. Ia menyebutkan bahwa jumlah penderita diabetes di India bahkan lebih banyak dari total populasi Brasil.
“Hanya 0,2 persen dari penduduk kita yang cukup aktif untuk pergi ke gym. Artinya, 99,8 persen tidak membangun atau menjaga massa otot. Tidak heran kasus diabetes terus meningkat. Massa otot rendah ditambah pola hidup dan pola makan buruk adalah resep bencana metabolik,” ujarnya.
Nitin menjelaskan bahwa menjaga otot tetap aktif dapat membantu mengatur kadar gula darah secara alami. “Secara ilmiah, otot rangka bertanggung jawab atas 70–80 persen penyerapan glukosa setelah makan. Semakin banyak otot yang kamu miliki, semakin mudah tubuh menyerap gula dari darah. Saat otot aktif, proses ini bisa terjadi tanpa bantuan insulin. Ya, jaringan ototmu secara alami membantu menurunkan kadar gula darah,” katanya.
Ia menambahkan, “Bayangkan otot seperti spons. Semakin besar ototmu, semakin banyak gula darah yang bisa diserap. Dan bagian terbaiknya, otot bisa menyerap glukosa bahkan tanpa insulin, terutama saat kamu beraktivitas.”
Saat latihan kekuatan, otot berkontraksi dan membutuhkan energi, sehingga menarik glukosa dari darah untuk digunakan. Proses ini meningkatkan metabolisme glukosa dan memperbaiki kesehatan metabolik secara keseluruhan.
Latihan fisik juga membantu meningkatkan sensitivitas insulin hingga 48 jam setelahnya. “Artinya, kebutuhan insulin tubuh jadi lebih rendah dan kadar gula darah lebih stabil,” katanya.
Selain kurang olahraga, pola makan tradisional yang tinggi karbohidrat dan rendah protein juga memperburuk situasi. “Makanan kita penuh karbohidrat tapi hampir tanpa protein, akibatnya kadar gula naik-turun dan pankreas bekerja terlalu keras. Lama-lama, respons insulin melemah dan muncullah diabetes,” ucap Nitin.
Ia mengingatkan bahwa sarcopenia atau kehilangan massa otot akibat usia, bisa dimulai sejak usia 30 tahun. Karena itu, bagi orang yang berisiko diabetes atau sudah mengidapnya, menjaga dan membangun otot bukan sekadar urusan kebugaran, tetapi bentuk pertahanan tubuh paling efektif melawan penyakit tersebut.
“Pergilah ke gym, bangun otot, dan makan dengan seimbang. Tambahkan protein ke dalam menu harianmu. Karena inilah senjata terbaik untuk melawan diabetes. Ingat, penampilan bagus hanyalah bonusnya,” kata Nitin, dikutip dari Times of India, Minggu (9/11/2025).

