JAKARTA – Mengenali tanda-tanda gangguan perhatian sejak dini merupakan langkah penting untuk melindungi rasa percaya diri dan kesejahteraan emosional anak. Jika gangguan perhatian tidak disadari, anak sering mendapat label negatif seperti keras kepala, ceroboh, atau “tidak berusaha,” yang dapat memengaruhi cara mereka melihat diri sendiri.
Dhruv Rawat, Psikolog Klinis di Lissun membagikan wawasan tentang bagaimana orangtua bisa membedakan antara gangguan perhatian yang sebenarnya dengan perilaku keras kepala pada anak, seperti dilansir dari Hindustan Times, Selasa (2/12/2025).
Cara Membedakan: Gangguan Perhatian atau Sekadar Keras Kepala?
Menurut Dhruv, tanda utama gangguan perhatian adalah perilaku yang muncul di semua situasi. Anak kesulitan duduk tenang, fokus atau mengikuti instruksi tidak hanya di rumah atau sekolah, tetapi juga saat les, bermain atau berada di lingkungan sosial. Kondisi ini menunjukkan adanya hambatan neurologis, bukan sekadar situasional. Sebaliknya, perilaku keras kepala biasanya bersifat selektif, di mana anak bertindak berbeda saat bersama orangtua, guru atau kerabat.
Dhruv menambahkan bahwa anak dengan gangguan perhatian sebenarnya ingin fokus, tetapi jaringan otak mereka belum mampu mempertahankan konsentrasi secara konsisten. Mereka berusaha, tetapi mudah terdistraksi, lupa langkah-langkah atau kehilangan arah tugas.
Sementara itu, anak yang keras kepala mampu melakukan tugasnya tetapi memilih untuk tidak melakukannya. Perbedaan lain terlihat dari respons terhadap konsekuensi, gangguan perhatian tidak membaik hanya dengan dimarahi atau diberi hukuman, sedangkan perilaku keras kepala biasanya berubah setelah diberikan konsekuensi yang tegas.
Tanda-Tanda Awal Gangguan Perhatian yang Perlu Diwaspadai
Dhruv menjelaskan bahwa gangguan perhatian sering tidak stabil. Di beberapa hari anak dapat sangat fokus, tetapi di hari lain mereka kesulitan menyelesaikan tugas sederhana. Fluktuasi ini tidak disengaja dan mencerminkan cara kerja sirkuit perhatian di otak. Sebaliknya, anak yang keras kepala biasanya konsisten dengan keinginannya—jika tidak ingin melakukan sesuatu, mereka menolak setiap saat.
Ia juga menambahkan bahwa gangguan perhatian sering disertai ciri lain seperti mudah lupa, sering kehilangan barang, sulit menyelesaikan tugas, dan perilaku impulsif. Semua ini bukan tanda kemalasan, melainkan dampak dari perbedaan proses kerja otak. Mengenali tanda-tanda ini sejak dini membantu orangtua memberikan dukungan yang tepat melalui pemahaman, struktur yang jelas, serta bantuan profesional bila diperlukan.

