JAKARTA – Musisi pendatang baru Diogenez ikut meramaikan industri musik Tanah Air. Baginya, musik bukan lagi sekadar panggung unjuk kemampuan, melainkan ruang paling jujur untuk bertahan hidup.
Lewat single keduanya, The Rose, kontestan Indonesian Idol Season XIII dan X Factor Indonesia Season 4 ini memilih membuka luka, alih-alih memoles citra. Titik balik Dio datang bukan dari satu momen besar, melainkan akumulasi kelelahan.
“Lelah menyimpan lagu sendirian, lelah menunda keberanian. Ada satu fase di hidup saya di mana musik bukan lagi pelarian, tapi satu-satunya cara bertahan,” ujarnya kepada Celebdaily.id, Jumat (23/1/2026).
Kesadaran itu yang mendorongnya merilis single pertama—bukan sebagai pernyataan percaya diri, melainkan sebagai pengakuan jujur. “Kalau tidak saya keluarkan sekarang, saya akan kehilangan diri saya sendiri.” ucapnya.
Soal identitas musik, Dio menegaskan ia tak pernah berniat membangun persona baru. “Warna musik Diogenez lahir dari hal-hal yang tidak sempat saya ucapkan di kehidupan sehari-hari,” katanya.
BACA JUGA:
Ifan Seventeen Lepas Jangan Paksa Rindu (Beda), Curahan Emosi dari Album Terbaru Resonance
Tohpati Gandeng Fabio Asher Hadirkan Kembali Cinta Kita, Single Ikonik yang Menjembatani Generasi
Ia bahkan menyebut sosok dalam lagu-lagunya bisa jadi lebih jujur dibanding dirinya di dunia nyata. Single kedua menjadi fase lanjutan yang lebih telanjang secara emosi. Terinspirasi dari penyesalan dan kehilangan yang sebenarnya bisa dicegah, Dio menulis liriknya tanpa niat menggurui.
“Liriknya untuk mengakui kesalahan,” ujarnya. Ia pun memberikan pesan sederhana, “Kadang kita baru belajar mencintai setelah tidak lagi punya kesempatan.”
Dibanding single pertama yang “masih defensif” dan cenderung menyalahkan faktor eksternal, kali ini Dio berhenti melindungi diri.
“Secara aransemen lebih sunyi, secara emosi lebih telanjang, dan secara vokal saya membiarkan ketidaksempurnaan tetap terdengar. Saya ingin pendengar merasa ‘dekat’, bukan ‘terkesan’,” ujarnya.

Ada satu baris lirik yang paling personal baginya—ditulis apa adanya, bahkan tanpa niat dijadikan lagu, “It feels like we were dancing in the rain, but it seems I messed everything up.” Justru di situlah, kata Dio, kejujurannya bersemayam.
Dalam proses produksi, Dio memilih bekerja dengan tim yang peka secara emosional. Tantangannya bukan teknis, melainkan menjaga kejujuran agar tak jatuh ke dramatisasi. Visual pun dibuat sederhana dan sunyi.
“Saya ingin visual itu terasa seperti halaman terakhir sebuah surat—tidak menjelaskan banyak, tapi meninggalkan bekas,” katanya.
Tanpa membidik segmen pendengar tertentu, Dio berharap lagunya hadir bagi mereka yang sedang diam, menyesal atau belajar memaafkan diri. “Kalau lagu ini bisa menemani seseorang di satu momen hidupnya dan membuatnya merasa tidak sendirian, bagi saya musik sudah menjalankan fungsinya,” ucapnya.

