Pasangan BertengkarMarah ke orang terdekat lebih mudah, ternyata ini penyebabnya. (Foto: Freepik)

JAKARTA – Apakah Anda sering mudah marah dan membentak orang terdekat, tetapi tetap tenang ketika menghadapi orang asing? Kondisi ini ternyata cukup umum dan bisa dijelaskan secara psikologis serta neurologis. Banyak orang menjadikan pasangan atau keluarga sebagai tempat pelampiasan emosi tanpa disadari.

Relationship coach Kyle Cox mengulas alasan mengapa hal ini bisa terjadi dan mengapa kita cenderung lebih toleran pada orang lain seperti rekan kerja atau orang asing. Dalam sebuah unggahan pada 25 Agustus, ia menjelaskan tiga faktor utama yang mendasarinya.

Pengujian Rasa Aman Secara Emosional

Menurut Kyle, otak kita dapat merespons secara berbeda tergantung dengan siapa kita berinteraksi. Ketika bersama orang yang dipercaya, otak cenderung lebih rileks dan menurunkan social mask atau topeng sosial.

Ia menjelaskan, “Otak tahu bahwa orang terdekat tidak akan meninggalkan Anda, sehingga topeng sosial otomatis dilepaskan. Namun saat bersama orang asing, korteks prefrontal tetap waspada dan menyaring perilaku. Dengan orang terdekat, otak lebih santai sehingga emosi mentah bisa keluar. Anda bukan orang yang jahat, hanya sedang tidak tersaring.”

Tingkat kepercayaan yang tinggi membuat kita merasa aman untuk bersikap apa adanya. Sedangkan saat berhadapan dengan orang asing, otak tetap berada dalam mode sopan untuk menghindari penilaian atau konsekuensi sosial.

Akumulasi Pemicu Emosional karena Kedekatan

Kyle juga menyebut konsep proximity trigger accumulation, yaitu akumulasi pemicu emosi karena intensitas kedekatan dan frekuensi pertemuan. Otak menyimpan setiap momen kecil yang mengganggu dalam amygdala sebagai “arsip rasa jengkel”.

Ia menjelaskan, “Setiap gangguan kecil dari orang yang sering ditemui akan tersimpan, sehingga menumpuk menjadi iritasi emosional. Itulah mengapa suara mengunyah pasangan bisa membuat Anda marah, sementara suara mengunyah orang asing tidak berpengaruh.”

Karena intens bertemu, otak merekam lebih banyak detail yang berulang, sehingga memicu respons emosional lebih cepat dibandingkan orang yang jarang ditemui.

Bukan Semata karena Marah

Jika Anda sering merasa bersalah setelah meluapkan emosi pada orang terdekat, Kyle mengatakan bahwa sebenarnya otak sedang menggunakan mereka sebagai tempat aman untuk melepaskan stres. Hal ini dapat menjadi bentuk pelepasan emosi atau emotional regulation alami.

Ia mengatakan, “Bertengkar dengan orang yang aman terasa lebih baik dibanding menyimpan kekacauan batin. Anda tidak marah pada mereka, tetapi sedang menggunakan mereka sebagai pelampiasan emosi.”

Setelah konflik mereda, seseorang biasanya merasa lebih tenang dan dekat dengan orang tersebut karena adanya pelepasan emosi yang memicu hormon pengikat (bonding chemicals). Demikian dikutip dari Hindustan Times, Sabtu (15/11/2025).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *