JAKARTA – Michael B Jordan mengaku sempat membutuhkan terapi setelah membintangi film Black Panther. Aktor 38 tahun itu mengaku karakter Erik Killmonger yang diperankannya begitu melekat hingga memengaruhi kondisi emosionalnya setelah syuting berakhir.
Michael B Jordan memerankan tokoh antagonis Erik Killmonger dalam film superhero Black Panther (2018). Ia mengungkapkan bahwa karakter tersebut “menempel” cukup lama dalam dirinya, sehingga ia memutuskan menemui terapis untuk membantu memulihkan kondisi mental dan emosionalnya.
Saat tampil dalam acara CBS Sunday Morning, Jordan menceritakan pengalamannya tersebut. “Ya, karakter itu memang agak menempel pada saya untuk sementara waktu. Dan, Anda tahu, saya pergi ke terapi dan membicarakannya,” ujarnya. “Saya menemukan cara untuk benar-benar melepaskan tekanan dan saya rasa saat itu saya masih belajar bahwa saya perlu melakukan ‘decompress’ dari sebuah karakter.”
Ia menambahkan bahwa sesi terapi yang awalnya sederhana, justru berkembang menjadi proses refleksi diri yang lebih dalam. “Terapi itu kemudian berkembang menjadi percakapan yang lebih besar dan penemuan jati diri,” kata Jordan. Ia kini percaya bahwa mencari bantuan profesional adalah hal yang perlu bagi banyak orang dan terutama baginya.
BACA JUGA:
Kisah Dermawan Elvis Presley: Pernah Hadiahkan Mobil ke Penggemar Saat di Dealer
Jennifer Lopez Ungkap Syarat Kekasih Baru, Harus Hormati dan Terima Dirinya
Bintang film Creed itu juga menegaskan bahwa dirinya tidak merasa malu menjalani terapi. “Saya pikir itu baik bagi orang-orang untuk pergi dan berbicara. Itu sesuatu yang sama sekali tidak saya malu-maluin, bahkan saya banggakan,” ujarnya. “Dan itu benar-benar membantu saya untuk menjadi komunikator yang baik dan pribadi yang lebih utuh, dari dalam maupun luar.”
Sebelumnya, Michael B Jordan juga menjalani terapi untuk mempersiapkan perannya dalam film tinju Creed III (2023). Lawan mainnya, Tessa Thompson, yang memerankan istrinya di layar, pernah mengungkap bahwa mereka bahkan mengikuti sesi terapi pasangan demi mendalami peran tersebut.
Dalam wawancara dengan Refinery29, Tessa Thompson mengatakan, “Garis antara karakter dan diri kami terkadang menjadi kabur karena kami membawa begitu banyak hal pribadi yang sedang kami eksplorasi ke dalam karakter.” Ia menambahkan, “Saya akan bilang itu adalah pengalaman awal terapi pasangan bagi kami berdua secara pribadi, tapi dilakukan sebagai karakter, yang rasanya sangat aneh.”
Menurut Thompson, pengalaman tersebut justru memberi pelajaran penting. “Itu mengingatkan kami bahwa pergi ke terapi, bahkan ketika hubungan sedang baik-baik saja, bisa menjadi hal yang bagus jika Anda ingin mempertajam komunikasi dan memahami cara kerja seseorang,” katanya.
Ia juga mengungkapkan bahwa sesi tersebut perlahan menjadi lebih personal. “(Terapi itu) juga menjadi refleksi atas hubungan kami masing-masing. Kami sudah membuat film-film ini selama delapan atau sembilan tahun, kami melihat satu sama lain melewati berbagai fase kehidupan romantis,” tuturnya. “Kami tahu banyak tentang kehidupan masing-masing, kami berbagi dan membicarakannya. Jadi terapi itu awalnya dimulai dari pekerjaan, lalu menjadi semakin personal.” Demikian seperti dilansir Female First, Selasa (6/1/2026).

