JAKARTA – Perempuan yang kuat dan berprestasi sering dipandang sebagai inspirasi dan panutan. Namun di balik itu, ada tekanan tersembunyi yang jarang disadari.
Kemampuan dan produktivitas perlahan bisa menjadi bagian dari identitas diri, bukan sekadar hal yang dilakukan. Akibatnya, ketika berhenti atau beristirahat, muncul rasa tidak nyaman bahkan bersalah.
Apa Itu ‘High-Functioning Woman Script’?
Menurut Ragini Rao, psikoterapis sekaligus salah satu pendiri InfinumGrowth, fenomena ini dikenal sebagai high-functioning woman script, yaitu pola perilaku yang terbentuk sejak lama dan membuat perempuan merasa harus selalu kuat dan produktif.
“Ini adalah pola yang dipelajari, di mana kompetensi menjadi identitas, istirahat terasa memicu rasa bersalah dan meminta bantuan terasa seperti kegagalan,” katanya, dikutip Celebdaily.id dari Hindustan Times, Kamis (9/4/2026).
Dalam pola ini, nilai diri seseorang sangat bergantung pada produktivitas. Jika mereka produktif, mereka merasa berharga. Jika tidak, rasa percaya diri bisa menurun drastis.
BACA JUGA:
Apa Itu Emotional Outsourcing? Ini Kata Ahli tentang Ekspektasi Berlebihan dalam Hubungan
Ragini menjelaskan bahwa pola ini terbentuk dari pengalaman masa kecil dan lingkungan, di mana perempuan sering dipuji karena menjadi “kuat” dan “bisa diandalkan”. “Banyak perempuan hidup dengan aturan internal: saya harus bisa menanggung semuanya,” katanya.
Akibatnya, mereka sering menjadi sosok yang selalu diandalkan—perencana, pemecah masalah dan tempat bergantung bagi orang lain—namun mengorbankan kesehatan mentalnya sendiri.
Dampak dan Cara Mengatasinya
Pola ini membuat perempuan cenderung over-functioning, yaitu melakukan terlalu banyak hal hingga melewati batas kemampuan diri. Mereka sulit menolak, sulit menetapkan batasan dan merasa bersalah jika tidak produktif.
BACA JUGA:
Benarkah Harus Mencintai Diri Sendiri Dulu? Cek Fakta di Balik Kutipan Populer Ini
Untuk mengatasinya, Ragini memberikan beberapa langkah penting:
1. Pisahkan identitas dari kemampuan
Kemampuan adalah sesuatu yang dimiliki, bukan jati diri. Dengan memahami ini, istirahat tidak lagi terasa seperti kegagalan.
2. Sadari rasa bersalah tanpa harus menuruti
Rasa bersalah bisa muncul saat pola ini terganggu, tetapi itu hanya sinyal, bukan perintah yang harus diikuti.
3. Ambil keputusan secara sadar
Belajar memilih dengan sadar: kapan harus beristirahat, meminta bantuan atau mendelegasikan tugas.
“Berpindahlah dari kebiasaan melakukan semuanya secara otomatis menjadi pilihan yang lebih sadar,” katanya.
Dengan memahami pola ini, perempuan dapat membangun hubungan yang lebih sehat dengan diri sendiri—di mana istirahat bukan kelemahan, melainkan bagian penting dari keseimbangan hidup.

