JAKARTA – Kita sering mendengar pepatah “You are what you eat” — kamu adalah apa yang kamu makan. Tapi, bagaimana jika makanan sehari-hari ternyata benar-benar bisa melindungi tubuh dari penyakit mematikan seperti kanker?
Di tengah gaya hidup modern yang serba cepat, penuh stres, dan didominasi makanan instan, hubungan manusia dengan makanan kini lebih berfokus pada kepraktisan ketimbang kepedulian. Padahal, sains terus menunjukkan bahwa nutrisi bukan sekadar untuk mengisi perut, tetapi juga memperkuat sel tubuh. Para dokter dan peneliti bahkan menilai makanan sebagai salah satu senjata paling ampuh dalam mencegah penyakit, termasuk kanker.
Mulai dari antioksidan yang melawan radikal bebas hingga serat yang menjaga kesehatan usus, setiap suapan makanan bisa menjadi pilihan antara menyembuhkan atau merusak tubuh. Salah satu ahli gizi yang menegaskan hal ini adalah Dr Sunitha N dari Vasavi Hospitals, yang menyebut makanan sebagai “senjata terkuat” melawan kanker.
Ia menjelaskan bahwa pilihan makanan sehari-hari — apa yang kita makan, kapan dan bagaimana cara mengombinasikannya — berperan besar dalam menurunkan risiko kanker. Menurutnya, “Apa yang kamu makan setiap hari bisa memicu penyakit atau justru membantu mencegahnya.”
Selama ini, makanan sering dianggap hanya sebagai sumber energi, padahal lebih dari itu — makanan juga berfungsi sebagai obat alami yang secara perlahan memperkuat tubuh dari dalam terhadap berbagai penyakit berbahaya.
Dr Sunitha menjelaskan bahwa perpaduan makanan dengan kandungan antioksidan dan anti-inflamasi tinggi dapat secara signifikan menurunkan risiko kanker. “Setiap kali kita makan, tubuh menghasilkan radikal bebas yang bisa merusak DNA. Tapi antioksidan dalam buah, sayur, kunyit dan bawang putih mampu menetralkannya,” ujarnya, dikutip dari Hindustan Times, Senin (10/11/2025).
Pentingnya Perencanaan Pola Makan
Menurut Dr Sunitha, bukan hanya apa yang dimakan, tapi juga bagaimana cara kita makan sangat berpengaruh. “Pola makan vegetarian biasanya lebih bermanfaat karena kaya serat dan antioksidan, sementara makanan non-vegetarian—terutama daging olahan seperti sosis—sering mengandung racun berbahaya seperti senyawa nitroso dan logam berat seperti timbal,” katanya.
Bahkan makanan sederhana seperti idli atau nasi sambal bisa menghasilkan radikal bebas setelah dicerna, sehingga perlu diseimbangkan dengan sayuran kaya antioksidan. Ia juga menyoroti pentingnya waktu makan.
“Kebiasaan melewatkan sarapan atau makan terlalu malam dapat memicu asam lambung. Kanker yang berhubungan dengan usia, seperti kanker prostat atau ovarium, sering dikaitkan dengan kurangnya aktivitas dan pola makan buruk,” ucapnya.
Superfood, Perisai Alami Tubuh
Dr Sunitha menyebut beberapa makanan yang dapat bertindak sebagai pelindung alami tubuh dari kanker. Sayuran seperti kembang kol mengandung senyawa sulfur yang membantu mengusir radikal bebas.
“Tomat kaya likopen — dan ketika dimasak, kandungannya justru meningkat. Tapi hindari terlalu sering memakan biji tomat bersama bayam karena bisa menyebabkan batu ginjal,” ucapnya. Bawang putih juga menjadi andalan. “Satu siung bawang putih mentah yang ditelan setiap hari dengan air dapat memberikan manfaat luar biasa,” katanya.
Kacang-kacangan yang kaya fitokimia melindungi usus besar, sementara buah jeruk seperti jeruk dan lemon membantu meningkatkan kekebalan dan penyerapan zat besi. Ia juga menekankan pentingnya konsumsi lemak sehat.
“Minyak wijen, zaitun, dan kacang tanah mengandung lemak tak jenuh yang baik untuk jantung. Hindari lemak terhidrogenasi seperti mentega putih (Dalda), karena dapat meningkatkan risiko serangan jantung,” katanya. Kunyit pun tak kalah penting. “Kurkumin dalam kunyit memiliki sifat antiinflamasi. Campurkan ¼ sendok teh kunyit ke dalam susu hangat dengan dua cubitan lada hitam setiap hari untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan menurunkan risiko kanker,” katanya.
Kebiasaan Sehat Harus Dimulai sejak Dini
Gizi seimbang, kata Dr Sunitha, bukan hanya untuk orang dewasa tetapi perlu dibiasakan sejak kecil. “Menu sehat sebaiknya mencakup makanan tinggi serat serta yoghurt atau buttermilk untuk memperlancar pencernaan. Jangan hanya mengandalkan karbohidrat — sertakan buah seperti pepaya dan apel untuk vitamin dan serat,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan agar tidak mengabaikan gejala tubuh. “Sembelit yang dibiarkan bisa menyebabkan kanker usus besar. Setiap keluhan kesehatan harus segera ditangani — jangan abaikan sinyal dari tubuh,” katanya.
Ia pun berpesan, “Kebiasaan makan sehat harus dimulai sejak dini — bahkan anak usia tiga tahun bisa belajar pola makan baik. Tidak ada kata terlambat untuk mulai makan sehat, karena apa yang kamu pilih hari ini akan menentukan kesehatanmu di masa depan.”

