Ayah dan anakStudi menjelaskan jadi ayah baru lebih stres, tapi hidup terasa lebih bermakna. (Foto: Freepik)

JAKARTA – Sebuah studi terbaru mengungkap bahwa para ayah baru cenderung mengalami peningkatan stres dalam keseharian mereka. Namun di sisi lain, mereka justru merasakan makna hidup yang lebih dalam setelah memiliki anak.

Fenomena ini disebut para psikolog sebagai “parenting paradox” atau “paradoks pengasuhan.” Kondisi ini menggambarkan seseorang yang mengalami penurunan suasana hati harian, tetapi memiliki kepuasan hidup yang lebih tinggi secara keseluruhan.

Penelitian yang dilakukan oleh para ahli saraf emosi terhadap 88 ayah yang baru pertama kali memiliki anak ini menelusuri bagaimana peran baru sebagai orangtua memengaruhi fungsi otak dan kesejahteraan emosional. Para peserta diminta mengisi survei selama masa kehamilan pasangan mereka dan enam bulan setelah kelahiran anak. Selain itu, 35 orang di antaranya menjalani pemindaian otak (fMRI) untuk memantau perubahan konektivitas otak.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ayah dengan perasaan positif terhadap pengasuhan mengalami peningkatan konektivitas di area otak yang berhubungan dengan pengendalian diri dan empati, seperti middle frontal gyrus dan supramarginal gyrus.

Sebaliknya, ayah yang memiliki perasaan negatif menunjukkan perubahan pada bagian korteks sensorik dan otak kecil (cerebellum), yang menandakan peningkatan respons stres terhadap rangsangan sehari-hari — misalnya tangisan bayi.

Para peneliti juga menemukan bahwa ayah yang tetap merasakan makna hidup tinggi setelah memiliki anak memperlihatkan konektivitas lebih kuat pada insular cortex dan temporal pole, bagian otak yang penting dalam menghubungkan emosi dengan identitas diri.

Peneliti menjelaskan, “Inilah yang menjelaskan paradoks pengasuhan. Seorang ayah bisa merasa kewalahan karena kurang tidur, tapi tetap melihat semua itu sebagai bagian dari hidup yang bermakna.”

Hasil riset ini menunjukkan bahwa stres jangka pendek dan kepuasan hidup jangka panjang dipicu oleh proses otak yang berbeda. Bagian otak yang berfungsi mengintegrasikan emosi membantu seseorang memahami pengalaman positif maupun negatif, membentuk narasi hidup yang utuh dan mendukung kesejahteraan jangka panjang.

Penelitian-penelitian sebelumnya juga mendukung temuan ini, di mana makna hidup terbukti menjadi faktor utama penentu kesehatan mental, bahkan dalam situasi penuh tekanan. Sebuah studi di Jerman juga menemukan bahwa tingkat kesejahteraan antara orangtua dan non-orangtua tidak jauh berbeda, meskipun orangtua menunjukkan variasi pengalaman yang lebih besar.

Dikutip dari Female First, Sabtu (1/11/2025), kesimpulan penelitian ini menyebutkan, “Makna hidup bisa diciptakan dalam situasi apa pun. Otak manusia mampu menyesuaikan perjalanan hidup, membayangkan ulang kisahnya, dan membantu seseorang bertahan—bahkan saat dihadapkan pada bayi yang menangis di tengah malam.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *