JAKARTA – Seorang terapis mengungkapkan alasan mengapa mengakhiri hubungan jangka panjang terasa jauh lebih sulit dibanding hubungan biasa. Keputusan untuk berpisah bukan hanya soal emosi, tetapi juga melibatkan faktor psikologis dan biologis yang kompleks.
Siapa pun yang pernah mengakhiri hubungan lama pasti memahami betapa beratnya proses tersebut. Bahkan, rasa sakitnya kerap sulit dijelaskan, seolah kehilangan sesuatu yang sangat besar dalam hidup.
Jeff Guenther, seorang konselor profesional berlisensi dari Portland, menjelaskan bahwa semakin lama hubungan berjalan, semakin besar keterikatan identitas seseorang dengan pasangannya.
BACA JUGA:
Emotional Outsourcing dalam Hubungan: Kenapa Kita Terlalu Banyak Menuntut Pasangan?
“Penelitian menunjukkan bahwa pasangan secara harfiah menjadi bagian dari konsep diri Anda. Meninggalkan mereka bukan hanya kehilangan pasangan, tetapi kehilangan sebagian dari diri Anda,” katanya, dikutip Celebdaily.id dari Hindustan Times, Jumat (24/4/2026).
Ia juga menyoroti fenomena intermittent reinforcement, di mana naik-turunnya hubungan membuat seseorang tetap berharap pada momen baik yang pernah ada. “Sistem saraf Anda terus berharap versi terbaik dari hubungan itu akan kembali,” katanya.
Selain itu, teori keterikatan menunjukkan bahwa perpisahan dapat memicu respons otak yang mirip dengan rasa sakit fisik. “Ketika Anda berpikir untuk pergi, otak tidak sedang berlebihan—ia benar-benar menganggapnya sebagai ancaman,” katanya.
Faktor Biologis dan Persepsi Masa Depan
Jeff juga menjelaskan peran hormon oksitosin, yang dikenal sebagai “hormon cinta”, dalam memperkuat ikatan emosional dalam hubungan jangka panjang.
“Bertahun-tahun kedekatan fisik membuat otak terbiasa dengan hormon keterikatan. Ketika hubungan berakhir, itu seperti menghentikan sesuatu secara mendadak—dan efeknya bisa menakutkan,” katanya.
BACA JUGA:
Kenapa Persahabatan di Usia 20–30-an Terasa Lebih Sulit? Ini Penjelasannya
Selain itu, banyak orang juga mengalami ketakutan berlebihan terhadap kesedihan di masa depan. “Penelitian menunjukkan bahwa orang sering melebih-lebihkan seberapa buruk perasaan mereka setelah putus. Namun pada saat itu, bayangan kesedihan tersebut terasa sangat nyata dan menghambat mereka untuk pergi,” katanya.
Penjelasan ini menunjukkan bahwa sulitnya mengakhiri hubungan jangka panjang bukan hanya soal perasaan, tetapi juga dipengaruhi oleh cara kerja otak dan tubuh dalam merespons kehilangan.

