JAKARTA – Langkah Hartono Gan menghadirkan ready-to-wear menjadi strategi untuk menjawab tantangan pasar yang selama ini terbatas pada segmen tertentu. Transformasi ini juga sejalan dengan arah JF3 Fashion Festival 2026 dalam membangun industri fashion yang lebih kuat.
Hartono mengakui bahwa sistem made-to-order memiliki keterbatasan dalam menjangkau pasar yang lebih luas.
“Kalau dari made-to-order itu tricky. Saya harus cari market sampai niche banget, jadi sangat sempit,” katanya kepada Celebdaily.id di LAKON Store, Mal Kelapa Gading, Jakarta, Sabtu (26/4/2026).
BACA JUGA:
Kim Kardashian Simpan Kostum Tur Kanye West untuk Kenangan Anak-Anak Mereka
Ia juga menyoroti bahwa tidak semua konsumen dapat mengakses produk dengan harga tinggi yang selama ini menjadi ciri khas brand-nya.
“Kita tidak bisa menjual ke semua orang, market-nya memang terbatas,” katanya.
Karena itu, ready-to-wear menjadi solusi untuk membuka akses tanpa mengorbankan kualitas. “Semua produksi tetap saya control, tidak ada outsourcing massal,” katanya.
Karakter Desain dan Visi Jangka Panjang
Hartono juga menegaskan bahwa identitas desainnya tetap konsisten, termasuk pendekatan gender-neutral yang menjadi ciri khasnya.
“Saya itu desainer gender neutral. Saya tidak suka mengkotak-kotakkan baju itu buat cowok atau cewek,” ujarnya.
BACA JUGA:
Kate Hudson Pilih Busana Nyaman di Karpet Merah, Ungkap Evolusi Gaya Fashion Seiring Waktu
Ia juga menambahkan bahwa desain yang dihadirkan tetap mengedepankan prinsip dasar, namun tidak membosankan. “Basic but never boring, itu yang selalu saya pegang,” katanya.
Melalui langkah ini, Hartono Gan tidak hanya memperluas pasar, tetapi juga membangun fondasi brand yang lebih kuat dan berkelanjutan. Langkah ini sekaligus menjadi contoh bagaimana desainer lokal bisa berkembang dalam ekosistem industri yang semakin kompetitif.

