JAKARTA – Hubungan yang terlihat sempurna dari luar belum tentu benar-benar sehat. Ada beberapa tanda bahaya (red flags) yang sering tidak disadari, tetapi bisa berdampak pada kesehatan emosional.
Menurut Aanandita Vaghani, konselor kesehatan mental sekaligus pendiri UnFix Your Feelings, tanda-tanda ini sering kali terabaikan karena sifatnya halus dan tidak selalu terasa sebagai masalah besar.
BACA JUGA:
Alasan Putus dari Hubungan Lama Sangat Sulit, Terapis Ungkap Penjelasan Ilmiahnya
Aanandita menjelaskan bahwa dalam hubungan yang tampak “sempurna”, ada pola-pola tertentu yang sering luput dari perhatian. Berikut ini ulasannya, dikutip Celebdaily.id dari Hindustan Times, Selasa (5/5/2026).
1.Tidak pernah bertengkar
Banyak orang menganggap hubungan tanpa konflik adalah hal ideal. Namun, konflik kecil sebenarnya wajar dalam hubungan sehat.
“Saya tidak bicara tentang kekasaran, tapi gesekan kecil itu normal karena dua orang punya kebutuhan dan latar belakang berbeda.”
Jika salah satu pihak selalu menahan perasaan demi menjaga harmoni, itu bisa menjadi tanda masalah.

2. Hubungan jadi seluruh identitas diri
Di awal hubungan, wajar jika pasangan menjadi pusat perhatian. Namun jika seseorang kehilangan jati dirinya dan hanya bergantung pada hubungan, itu bisa berbahaya.
Ketika harga diri dan kebahagiaan sepenuhnya bergantung pada pasangan, hubungan menjadi sangat rapuh.
BACA JUGA:
Emotional Outsourcing dalam Hubungan: Kenapa Kita Terlalu Banyak Menuntut Pasangan?
3. Permintaan maaf selalu disertai alasan
Kalimat seperti “maaf, tapi…” sering terdengar seperti permintaan maaf, namun sebenarnya bisa mengalihkan fokus dari kesalahan.
“Permintaan maaf yang selalu disertai alasan belum tentu benar-benar tulus.” Akibatnya, perasaan terluka sering terabaikan.
Beberapa tanda lain juga bisa memengaruhi kondisi emosional dalam hubungan.

4. Mulai berbohong untuk menghindari reaksi pasangan
Awalnya mungkin hanya menyembunyikan hal kecil, tapi lama-kelamaan menjadi kebiasaan. “Dalam hubungan yang aman, kebenaran adalah hal biasa, bukan sesuatu yang harus ditakuti.”
Jika seseorang merasa perlu “mengedit” hidupnya agar pasangan tidak marah, itu tanda hubungan tidak sehat.
5. Merasa dicintai hanya saat pasangan dalam mood baik
Cinta seharusnya tidak bergantung pada suasana hati pasangan. Aanandita menyebut kondisi ini sebagai hypervigilance, yaitu keadaan di mana seseorang selalu waspada terhadap perubahan emosi pasangan. “Ini bukan tanda perhatian, tapi tanda ketidakamanan.”
BACA JUGA:
Kenapa Persahabatan di Usia 20–30-an Terasa Lebih Sulit? Ini Penjelasannya
Perasaan harus selalu memastikan pasangan baik-baik saja agar diri sendiri merasa aman bisa menjadi beban emosional.
Kesimpulannya, red flags dalam hubungan tidak selalu berarti harus langsung mengakhiri hubungan. Namun, tanda-tanda tersebut perlu diperhatikan dan menjadi bahan refleksi, serta komunikasi agar hubungan tetap sehat dan seimbang.

