Diet SehatKonsumsi makanan yang sehat untuk mendapatkan berat badan ideal. (Foto: Freepik)

JAKARTA – Banyak orang memilih melewatkan sarapan, makan siang atau makan malam demi menurunkan berat badan lebih cepat. Namun menurut dokter spesialis kesehatan preventif, kebiasaan tersebut justru bisa memperlambat proses pembakaran lemak dan membuat program diet menjadi kurang efektif.

Dokter Dr Anju Ghei, Vice President sekaligus Head of Preventive Health di VLCC Healthcare, menjelaskan bahwa mengurangi makan tidak selalu berarti harus melewatkan waktu makan. Menurutnya, banyak orang percaya semakin jarang makan maka kalori yang masuk akan semakin sedikit sehingga berat badan cepat turun. Padahal, tubuh manusia bekerja jauh lebih kompleks dibanding sekadar menghitung jumlah kalori.

Dr Anju Ghei menegaskan pentingnya memahami perbedaan antara melewatkan makan secara sembarangan dan puasa yang dilakukan secara teratur atau terstruktur.

Banyak orang berpikir tubuh akan langsung masuk ke mode “lebih sedikit makan, lebih banyak membakar lemak” ketika melewatkan waktu makan. Namun menurut Dr Anju Ghei, tubuh tidak bekerja sesederhana itu.

Sebaliknya, tubuh justru bisa menganggap kondisi tersebut sebagai ancaman kekurangan energi lalu mulai menghemat pembakaran kalori. “Sebagai respons, tubuh akan mengaktifkan mekanisme perlindungan untuk menghemat energi,” katanya, dikutip Celebdaily.id dari Female First, Rabu (27/5/2026).

Menurutnya, salah satu respons utama tubuh adalah menurunkan laju metabolisme sehingga tubuh membakar lebih sedikit kalori sepanjang hari. “Salah satu respons tersebut adalah menurunnya laju metabolisme, artinya tubuh membakar lebih sedikit kalori selama sehari,” kata Dr Anju Ghei.

BACA JUGA:

Berat Badan Turun Perlahan Ternyata Lebih Efektif, Ini Penjelasan Pelatih Fitness

Selain itu, hormon stres seperti kortisol juga bisa meningkat dan memicu penumpukan lemak, terutama di area perut. Ia mengatakan, “Pada saat yang sama, hormon stres seperti kortisol bisa meningkat, yang dapat memicu penumpukan lemak terutama di area perut.”

Tidak hanya itu, rasa lapar juga cenderung menjadi lebih besar ketika seseorang sering melewatkan waktu makan. Menurut Dr Anju Ghei, hormon ghrelin yang berfungsi memicu rasa lapar akan meningkat ketika pola makan menjadi tidak teratur.

“Kadar ghrelin, yaitu hormon yang merangsang nafsu makan, akan meningkat ketika asupan makanan menjadi tidak teratur,” katanya. Akibatnya, seseorang biasanya akan merasa sangat lapar di kemudian hari dan lebih mudah makan berlebihan atau mengonsumsi makanan tinggi karbohidrat untuk mendapatkan energi cepat.

Dr Anju Ghei mengatakan, “Akibatnya, ketika seseorang berpuasa atau tidak makan lebih awal dalam sehari, mereka sering menjadi sangat lapar di kemudian hari dan akhirnya makan berlebihan atau menginginkan makanan tinggi karbohidrat sebagai sumber energi cepat.”

Melewatkan Makan Bisa Ganggu Gula Darah dan Massa Otot

Menurut Dr Anju Ghei, kebiasaan melewatkan makan secara tidak teratur juga bisa mengganggu kestabilan gula darah. Ia menjelaskan bahwa kondisi tersebut dapat memicu lonjakan gula darah dan memperburuk resistensi insulin, terutama pada orang dengan pradiabetes atau risiko gangguan metabolisme.

Selain itu, tubuh juga bisa mulai memecah massa otot sebagai sumber energi ketika terlalu lama tidak mendapatkan asupan makanan, terutama jika konsumsi protein tidak konsisten. Dr Anju Ghei mengatakan, kondisi tersebut justru dapat memperlambat proses penurunan berat badan, terutama pada orang berusia di atas 40 tahun.

Daripada melewatkan waktu makan secara sembarangan, Dr Anju Ghei menyarankan pola puasa yang lebih terstruktur dan realistis.

Ia menjelaskan, “Metode seperti puasa malam selama 12 hingga 14 jam atau time-restricted eating dalam jendela makan 8 sampai 10 jam memungkinkan kadar insulin menurun dan memberi waktu bagi tubuh menggunakan lemak sebagai sumber energi.”

Menurutnya, puasa yang terkontrol jauh lebih efektif dan mudah dipertahankan dibanding kebiasaan tidak makan secara acak. Dr Anju Ghei juga menyarankan pola makan yang tetap seimbang dan konsisten selama menjalani program penurunan berat badan.

BACA JUGA:

Duduk di Toilet Lebih dari 15 Menit Bisa Picu Wasir, Dokter Peringatkan Risikonya

Ia mengatakan, banyak orang bisa mendapatkan hasil baik dengan dua hingga tiga kali makan utama yang diberi jarak sekitar empat hingga lima jam tanpa terlalu sering ngemil. Setiap menu makan sebaiknya tetap mengandung protein, sayuran kaya serat, biji-bijian utuh, serta lemak sehat.

Ia menjelaskan, “Setiap waktu makan idealnya mengandung protein yang cukup seperti telur, lentil, atau paneer, sayuran kaya serat, biji-bijian utuh seperti millet, dan lemak sehat dari kacang-kacangan atau alpukat.”

Menurut Dr Anju Ghei, kombinasi tersebut membantu seseorang kenyang lebih lama, menjaga gula darah tetap stabil, dan mempertahankan massa otot selama diet.

Dr Anju Ghei juga mengingatkan bahwa puasa terlalu lama tanpa pengawasan bisa menyebabkan tubuh kehilangan cadangan glikogen. Kondisi tersebut dapat memicu kelelahan, pusing, kekurangan nutrisi, hingga metabolisme yang semakin lambat.

Ia juga memperingatkan bahwa metode diet ekstrem seperti ini sering membuat berat badan cepat naik kembali ketika seseorang kembali makan normal. Menurutnya, penurunan berat badan yang sehat seharusnya dilakukan secara bertahap dan tetap memperhatikan kebutuhan nutrisi tubuh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *