JAKARTA – Penyanyi Natalie Imbruglia memilih menjauhkan putranya dari sorotan publik. Pelantun lagu Torn itu mengaku ingin menghormati privasi sang buah hati dan memastikan dapat tumbuh tanpa tekanan sebagai anak seorang selebritas.
Natalie dikaruniai seorang putra bernama Max Valentine pada 2019 melalui program bayi tabung (IVF) dengan donor sperma anonim. Dalam wawancara bersama majalah Style terbitan The Sunday Times, penyanyi asal Australia itu juga menjelaskan mengapa ia tetap berpegang pada keputusannya untuk tidak banyak membahas perjalanan kesuburannya di depan publik.
Natalie selalu berusaha menjaga kehidupan pribadi putranya agar tidak menjadi konsumsi publik. Menurutnya, keputusan tersebut merupakan bentuk penghormatan terhadap privasi sang anak.
“Saya sebisa mungkin menjauhkannya dari semua itu,” katanya, dikutip Celebdaily.id dari Female First, Senin (13/7/2026).
“Saya memilih untuk tidak membahasnya lebih jauh sebagai bentuk penghormatan kepada dirinya. Dia adalah pribadi yang sangat tertutup, jadi saya rasa hal itu akan mengganggunya. Selain apa yang sudah saya sampaikan secara terbuka, saya tidak pernah membicarakannya lagi,” tuturnya.
Penyanyi berusia 51 tahun itu juga mengungkapkan bahwa menjadi seorang ibu, justru membantunya keluar dari kebuntuan dalam menulis lagu yang sempat ia alami selama bertahun-tahun.
“Saya baru menyadari ketika saya mengalami kebuntuan menulis, ternyata bertepatan dengan keinginan besar saya untuk menjadi seorang ibu. Perjalanan itu sangat panjang bagi saya. Ketika bagian besar dari hidup yang begitu penting belum terwujud, tentu itu akan memengaruhi segalanya,” katanya.
“Menjadi seorang ibu membuat saya lebih ambisius. Saya menjadi lebih bersemangat. Apalagi saya adalah orangtua tunggal. Naluri seorang mama membuat saya ingin memberikan yang terbaik untuk anak saya,” ucapnya.
Cerita tentang Perimenopause dan Album Baru
Natalie dijadwalkan merilis album studio terbarunya bertajuk Algorithm pada September mendatang. Album tersebut menjadi karya studio pertamanya dalam lima tahun terakhir dan banyak terinspirasi dari pengalamannya menghadapi masa perimenopause.
“Anggap saja itu sebagai proses berduka. Saya benar-benar marah. Rasanya seperti terjatuh dari tebing. Saya merasa ada sebagian kepribadian saya yang hilang,” katanya.
“Saat saya membicarakannya, banyak orang justru mencoba membungkam saya. Sekarang saya justru sangat vokal. Syukurlah ada Davina McCall. Saya sempat bertemu dengannya di sebuah restoran dan langsung berkata, ‘Ceritakan semuanya kepada saya!'”
Menurut Natalie, perempuan perlu lebih terbuka membahas pengalaman tersebut agar tidak lagi dianggap sebagai hal yang tabu.
“Sangat penting bagi kita untuk bersuara dan berhenti berkata, ‘Oh, saya baik-baik saja melewatinya.’ Apa manfaatnya bagi orang lain? Waspadalah jika suatu hari Anda mulai berkata, ‘Saya merasa bukan diri saya sendiri.’ Saya mengatakan itu selama setahun sebelum akhirnya mencari solusi.”
Natalie mengakui masa tersebut membuatnya dipenuhi kecemasan dan kemarahan, sehingga tanpa sadar melukai orang-orang di sekitarnya.
“Saya mungkin telah menyakiti banyak orang dan saya berharap itu tidak terjadi. Tetapi sampai kita memiliki pengetahuan dan mendapatkan krim terapi hormon (HRT), kita tidak benar-benar tahu harus bagaimana. HRT benar-benar membantu.”
“Betapa menyenangkannya sekarang topik ini tidak lagi dianggap memalukan atau tabu. Coba bayangkan bagaimana ibu-ibu kita dulu harus menghadapinya,” ujarnya.

