JAKARTA – Kesuksesan ternyata tidak selalu membuat seseorang merasa percaya diri. Banyak orang justru tetap meragukan kemampuan dirinya meski telah meraih berbagai pencapaian, sebuah kondisi yang dikenal sebagai imposter syndrome.
Menurut psikoterapis sekaligus pendiri Gateway of Healing, Dr. Chandni Tugnait, kondisi ini sering dialami oleh para pekerja berprestasi tinggi. Ironisnya, mereka yang paling sukses justru sering menjadi orang yang paling jarang membicarakan keraguan terhadap diri sendiri.
Dr. Chandni menjelaskan bahwa banyak orang mengira kesuksesan akan menghilangkan rasa tidak percaya diri. Namun, kenyataannya justru sebaliknya.
Setiap pencapaian baru menghadirkan ekspektasi yang lebih besar, lingkungan yang lebih kompetitif, serta sorotan dari lebih banyak orang. Bagi mereka yang sejak awal merasa tidak benar-benar pantas berada di posisi tersebut, perhatian itu justru terasa seperti ancaman.
“Semakin banyak yang Anda capai, semakin keras suara keraguan itu muncul,” katanya, dikutip Celebdaily.id dari Hindustan Times, Senin (13/7/2026).
Menurutnya, salah satu ciri paling jelas dari imposter syndrome terlihat dari cara seseorang menjelaskan keberhasilannya. Mereka cenderung menganggap pencapaiannya terjadi karena keberuntungan, waktu yang tepat atau bantuan orang lain, bukan karena kemampuan yang dimiliki.
“Salah satu tanda paling jelas dari imposter syndrome adalah cara seseorang menjelaskan pencapaiannya sendiri. Mereka berkata semuanya terjadi karena waktunya tepat, persaingan tidak terlalu berat atau ada seseorang yang memberi mereka kesempatan,” katanya.
“Selalu ada alasan yang ditempatkan di luar kemampuan mereka sendiri. Keberuntungan, keadaan atau kemurahan hati orang lain menjadi penyebab utama, sehingga mereka sulit mengakui bahwa keberhasilan itu memang pantas menjadi milik mereka,” tuturnya.
Dr. Chandni menambahkan bahwa perfeksionisme sering berjalan beriringan dengan imposter syndrome. Banyak orang berusaha bekerja jauh lebih keras daripada orang lain demi menutupi rasa tidak percaya dirinya.
Namun, strategi tersebut justru melelahkan dan tidak pernah benar-benar menyelesaikan masalah. Perfeksionisme hanya meredam rasa ragu untuk sementara sambil perlahan menguras energi hingga berujung kelelahan.
Berhenti Membandingkan Diri dengan Orang Lain
Menurut Dr. Chandni, kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain juga memperburuk imposter syndrome. Di media sosial maupun kehidupan sehari-hari, kebanyakan orang hanya memperlihatkan sisi terbaik mereka kepada dunia.
Ketika seseorang yang penuh keraguan membandingkan dirinya dengan pencapaian orang lain, ia hanya melihat kesuksesan orang lain tanpa mengetahui perjuangan yang ada di baliknya. Akibatnya, ia merasa selalu tertinggal meski hasil yang diraihnya sebenarnya tidak kalah baik.
Lalu, bagaimana cara mengatasinya? Dr. Chandni mengatakan, perubahan biasanya dimulai ketika seseorang berani membicarakan perasaannya secara jujur kepada orang yang dipercaya. Menurutnya, imposter syndrome tumbuh subur dalam keheningan dan rasa terisolasi.
“Berbicara tentang hal ini dengan jujur dan terbuka biasanya menjadi awal perubahan. Imposter syndrome berkembang ketika kita memendamnya sendirian. Saat Anda menceritakannya kepada seseorang yang dipercaya dan ia menjawab, ‘Saya juga pernah merasakannya,’ sesuatu akan mulai berubah,” katanya.
Ia juga menyarankan agar seseorang mulai membiasakan diri mengakui setiap keberhasilan yang diraih, bukan langsung beralih mengejar target berikutnya. Kebiasaan sederhana itu, menurutnya, perlahan akan mengubah cara pikiran memandang kemampuan dan penghargaan terhadap diri sendiri.

