JAKARTA – Vokalis The Rolling Stones, Mick Jagger, mengungkapkan salah satu penyesalan terbesar dalam hidupnya. Ia mengaku kehilangan kesempatan bertemu idolanya, Elvis Presley, karena mengikuti nasihat mendiang John Lennon.
Dalam podcast Conan O’Brien Needs a Friend, Mick Jagger mengenang momen ketika John Lennon menyarankannya untuk tidak pernah bertemu dengan sosok yang ia kagumi. Kini, puluhan tahun setelah Elvis Presley meninggal pada 1977 dan John Lennon wafat pada 1980, Mick mengaku berharap dirinya tidak mengikuti saran tersebut.
Mick mengatakan John Lennon pernah merasa kecewa setelah bertemu langsung dengan Elvis Presley. Pengalaman itu membuat John menyarankan Mick agar tidak melakukan hal yang sama.
“Saya ingat John pernah berkata kepada saya, ‘Jangan pernah bertemu dengan idolamu. Kalau saya jadi kamu, Mick, saya tidak akan pernah bertemu Elvis,'” kata Mick Jagger menirukan ucapan John Lennon, dikutip dari Female First, Rabu (15/7/2026).
Mick mengaku memilih mengikuti nasihat tersebut. Namun, seiring berjalannya waktu, ia justru menyesali keputusannya.
“Dan saya memang tidak melakukannya. Saya mengikuti nasihat John. Itu benar-benar keputusan yang bodoh. Saya sebenarnya sangat ingin bertemu Elvis,” katanya.
Meski demikian, Mick mengaku saat itu ia ingin mempertahankan sosok Elvis versi dirinya sendiri. Ia khawatir pertemuan langsung justru akan merusak kekagumannya, seperti yang dialami John Lennon.
“Saya ingin menyimpan Elvis versi saya sendiri. Karena itu, saya tidak ingin gambaran tentang Elvis yang ada di kepala saya hancur seperti yang dialami John. Tapi mungkin saja Elvis versi saya akan berbeda,” ucapnya.
Kenang Masa Awal The Rolling Stones dan Persaingan dengan David Bowie
Dalam wawancara yang sama, Mick juga mengenang masa-masa awal The Rolling Stones ketika mereka kerap mendapat penolakan dan cibiran dari masyarakat. Saat itu, bandnya sering dicap sebagai kelompok yang “nakal”, “kotor”, dan “menyeramkan”.
“Di banyak tempat orang-orang sebenarnya menyambut kami dengan baik. Tetapi ada juga kelompok yang sama sekali tidak ramah. Mungkin mereka bahkan tidak tahu siapa kami, tetapi mereka tetap meneriakkan berbagai ejekan kepada kami,” katanya.
Menurut Mick, penampilan The Rolling Stones saat itu sebenarnya sangat sederhana jika dibandingkan dengan standar saat ini. Namun pada era 1960-an, penampilan mereka dianggap sangat berbeda.
“Terutama ketika pertama kali datang ke Amerika Serikat pada 1964. Di luar New York dan Los Angeles, kami benar-benar dianggap seperti orang aneh,” ucapnya.
“Lingkungannya cukup keras, terutama di Amerika. Tapi bukan hanya di Amerika, di Inggris juga ada banyak penolakan. Hanya saja, saat itu Amerika memang belum siap menerima hal seperti ini.”
Meski begitu, Mick memberikan apresiasi kepada sejumlah tokoh televisi seperti Ed Sullivan dan Mike Wallace yang tetap bersedia memperlakukan mereka dengan hormat.
“Mereka bersedia berdiskusi secara serius dengan kami. Mereka lebih menghargai kami. Ada juga yang tidak, dan kami memang tidak pernah tampil di acara mereka,” katanya.
Selain itu, Mick mengenang persahabatannya dengan mendiang David Bowie, yang menurutnya diwarnai persaingan sehat. Keduanya pernah berkolaborasi dalam lagu Dancing in the Street pada 1985.
“Ya, kami memang saling bersaing. David jauh lebih kompetitif daripada saya. Justru, dia yang membuat saya ikut menjadi kompetitif,” ujarnya.
Mick juga menilai David Bowie selalu berhasil berevolusi dalam setiap fase kariernya. “David mengalami begitu banyak perubahan. Tidak hanya ada satu sosok David Bowie. Dia terus berkembang dan menghadirkan gaya baru. Saat membawakan Jean Genie, gayanya sangat dipengaruhi The Rolling Stones. Itu benar-benar periode yang sangat ‘Stones’.”
Mick bahkan pernah menggoda sahabatnya itu karena merasa banyak gaya yang ditiru. “‘Astaga, kamu mencuri semua gaya saya.'”
David Bowie pun menjawab dengan santai. “‘Ya, saya tahu, kawan. Tapi itu adalah bentuk penghormatan untukmu.'”

