JAKARTA – Legenda musik soul asal Amerika Serikat, Clarence Carter, meninggal dunia pada usia 90 tahun setelah menjalani perjuangan berat melawan kanker prostat stadium 4, pneumonia dan sepsis. Penyanyi tunanetra yang dikenal lewat lagu-lagu legendaris seperti Patches, Slip Away dan Strokin’ itu mengembuskan napas terakhir pada Jumat (15/5/2026).
Kabar meninggalnya Clarence pertama kali dilaporkan oleh Rolling Stone. Juru bicara mantan istrinya juga mengonfirmasi kepada media tersebut mengenai penyakit yang diderita sang musisi sebelum wafat.
Penyanyi kelahiran Alabama itu dikenal sebagai salah satu suara paling berpengaruh dalam musik Southern R&B pada akhir 1960-an hingga 1970-an. Namanya melambung lewat sederet lagu emosional yang dirilis bersama Atlantic Records, dengan lagu Patches menjadi salah satu karya soul paling ikonik pada masanya.
Lagu tersebut kemudian mengantarkan Clarence meraih penghargaan Grammy untuk kategori Best R&B Song pada tahun 1970. Hingga kini, Patches masih dikenang sebagai salah satu lagu soul klasik paling berpengaruh dalam sejarah musik Amerika.
Kepergian Clarence terjadi di tengah meningkatnya kembali minat publik terhadap musik soul dan R&B klasik di berbagai platform streaming dan media sosial. Generasi muda belakangan kembali mengenal karya musisi legendaris seperti Otis Redding, Wilson Pickett, dan Aretha Franklin melalui soundtrack film, tren TikTok dan kebangkitan tren piringan hitam atau vinyl.
BACA JUGA:
Sharon Stone Berduka, Kakak Kandungnya Mike Stone Meninggal Dunia di Usia 74 Tahun
Dalam wawancara tahun 2010 mengenai warisan lagu Patches, Clarence pernah mengatakan, “Saya pikir Patches benar-benar mengukir nama saya di dunia musik. Lagu itu mungkin akan membuat orang-orang mengingat saya untuk waktu yang sangat lama. Itu memang selalu saya inginkan, tetapi saya tidak pernah tahu hal itu akan terjadi dengan cara seperti itu.”
Perjalanan Clarence Carter dari Kehilangan Penglihatan hingga Jadi Ikon Soul Dunia
Clarence Carter lahir di Montgomery, Alabama dan kehilangan penglihatannya saat masih kecil. Ia kemudian menempuh pendidikan di Alabama School for the Blind sebelum melanjutkan studi musik di Alabama State College.
Setelah itu, Clarence tumbuh menjadi salah satu suara paling khas dalam musik soul Amerika. Ia dikenal mampu memadukan unsur blues, funk dan Southern soul dalam karya-karyanya hingga memengaruhi banyak generasi musisi setelahnya.
Lagu Slip Away yang dirilis pada 1968 berhasil menembus posisi Top 10 di Amerika Serikat. Dua tahun kemudian, Patches semakin mengukuhkan popularitasnya lewat kisah tentang kemiskinan dan perjuangan hidup di wilayah Deep South Amerika Serikat.
Beberapa dekade kemudian, Clarence kembali menemukan generasi pendengar baru lewat lagu funk bernuansa humor Strokin’ yang dirilis pada 1986. Lagu tersebut kemudian menjadi cult classic dan turut muncul dalam film komedi The Nutty Professor yang dibintangi Eddie Murphy pada 1996.
Ucapan duka pun membanjiri media sosial setelah kabar kematiannya diumumkan. Seorang penggemar menulis di platform X. “Patches. Suara yang luar biasa. Menjadi bagian dari soundtrack kehidupan. RIP.”
Penggemar lainnya menulis, “Musim panas 1970, saat itu saya berusia tujuh tahun dan sedang melakukan perjalanan menuju tempat tugas baru ayah saya di Louisiana. Lagu ‘Patches’ milik Mr Carter sangat sering diputar di radio selama perjalanan tujuh jam itu. Setiap kali saya mendengar ‘Patches’, saya selalu teringat kedua orangtua saya tercinta. RIP Mr. Carter.”
Hingga usia lanjut, Clarence masih aktif melakukan tur musik. Ia juga dikenal lebih sering membawakan lagu-lagu funk dan blues bernuansa ceria dibanding hanya menyanyikan balada sedih.
Dalam wawancara tahun 2011 mengenai pandangan orang terhadap musik blues, Clarence mengatakan, “Secara umum, kebanyakan orang menganggap blues sebagai sesuatu yang sedih dan penuh penyesalan seperti ‘seandainya saya tidak melakukan itu’ dan semacamnya.”
“Tetapi saya tidak begitu. Biasanya ketika datang ke pertunjukan saya, kalian akan lebih banyak mendengar lagu-lagu cepat untuk menari daripada lagu yang membuat kalian menangis,” katanya, dikutip Celebdaily.id dari Female First, Jumat (15/5/2026).
Sepanjang kariernya, Clarence bekerja bersama sejumlah figur paling berpengaruh dalam musik soul dan R&B. Ia juga merekam karya-karyanya pada masa keemasan musik Southern Amerika bersama para musisi yang terkait dengan Muscle Shoals dan keluarga besar Atlantic Records.
BACA JUGA:
Aktor Star Wars Michael Pennington Meninggal Dunia di Usia 82 Tahun
Lagu-lagunya kemudian banyak di-sample, di-cover dan dijadikan referensi oleh musisi hip-hop, blues, hingga country. Dalam beberapa tahun terakhir, lagu Slip Away dan Patches kembali populer secara online ketika generasi muda mulai mendengarkan playlist soul klasik dan soundtrack film lawas.
Lagu Back Door Santa juga kembali menjadi lagu favorit saat musim Natal setelah digunakan sebagai sample oleh Run-D.M.C. dalam lagu Christmas in Hollis. Hal itu membuat musik Clarence kembali dikenal oleh generasi baru penggemar rap. Kepergian Clarence Carter menandai hilangnya salah satu bintang terakhir yang masih bertahan dari era keemasan musik Southern soul klasik.

