JAKARTA – Indonesia menjadi salah satu negara dengan penggunaan Gemini yang tinggi, terutama untuk kebutuhan kreatif berbasis multimodal dan mobile. Melihat karakter tersebut, Google menjadikan industri fashion Indonesia sebagai ruang eksplorasi untuk menunjukkan bagaimana AI dapat mendukung kreativitas tanpa mengambil alih sentuhan manusia.
Mira Sumanti, Head Marketing Google SEA mengatakan antusiasme masyarakat Indonesia dalam menggunakan Gemini tidak hanya terlihat dari pemanfaatannya sebagai chatbot. Menurutnya, banyak pengguna memanfaatkan Gemini untuk kebutuhan kreatif, termasuk membantu pekerjaan kreatif dan usaha kecil dalam membangun branding.
“Banyak yang menggunakan Gemini untuk kebutuhan kreatif, termasuk pekerja kreatif dan UKM yang menggunakannya untuk membuat branding atau kebutuhan lainnya. Karena itu, kami ingin memastikan Gemini dan fitur-fiturnya di Indonesia benar-benar sesuai dengan kebutuhan dunia kreatif,” tutur Mira Sumanti, Head Marketing Google SEA di kawasan TIM, Jakarta Pusat, Kamis (3/9/2026).
Mira menjelaskan, pola penggunaan Gemini di Indonesia memiliki karakter yang menarik dibandingkan sejumlah negara lain. Jika di beberapa negara penggunaan AI lebih banyak berfokus pada akademis, coding atau kebutuhan lainnya, masyarakat Indonesia justru menunjukkan kecenderungan kuat pada penggunaan kreatif.
“Indonesia menarik, karena ternyata penggunaan Gemini di sini lebih banyak untuk kebutuhan kreatif,” ucapnya.
Karakter tersebut kemudian menjadi salah satu alasan Google menghadirkan proyek “With Gemini, In Craft” bersama sejumlah pelaku industri fashion Indonesia. Proyek tersebut dirancang untuk mengeksplorasi bagaimana Gemini dapat masuk ke dalam proses kreatif desainer secara berbeda sesuai kebutuhan masing-masing.
AI sebagai Partner, Bukan Pengganti Kreator
Mira Sumanti menegaskan bahwa teknologi AI dalam dunia kreatif tetap harus menempatkan manusia sebagai pusatnya. Menurutnya, teknologi seharusnya digunakan untuk mengembangkan potensi kreativitas manusia, bukan menggantikan proses dan keahlian yang menjadi ciri khas seorang kreator.
“AI itu paling penting adalah intensi orang-orang di baliknya, benar-benar human is at the center. Gemini itu digunakan untuk mengembangkan potensi kreativitas manusia,” katanya.
Prinsip tersebut menjadi penting karena karya fashion memiliki unsur yang tidak mudah diterjemahkan hanya melalui teknologi. Nilai sebuah karya tidak hanya berada pada gambar akhir, tetapi juga pada pengalaman, proses, selera dan keputusan kreatif yang dibangun oleh desainer.
Dalam talkshow, Mira juga menyoroti bahwa setiap desainer memiliki kebutuhan berbeda ketika menggunakan Gemini. Karena itu, proyek tersebut sejak awal dibuat terbuka dan eksploratif agar para desainer dapat menemukan sendiri bagaimana teknologi dapat membantu proses kreatif mereka.
Pendekatan ini terlihat dari tiga studi kasus yang dikembangkan Google bersama pelaku fashion. Auguste Soesastro menggunakan Gemini untuk memperdalam riset budaya, Stella Rissa mengeksplorasi pengembangan karakter menjadi IP digital, sementara Andy Tan dan Jerome Kurnia memanfaatkannya untuk kebutuhan desain, prototyping, kolaborasi lintas negara, hingga analisis pasar.

Mira mengatakan bahwa perbedaan tersebut justru menjadi bagian menarik dari proyek With Gemini, In Craft. Teknologi yang sama dapat digunakan untuk kebutuhan berbeda, tergantung bagaimana kreator menerjemahkan ide dan kebutuhannya.
Indonesia Punya Modal Kreativitas yang Besar
Penggunaan Gemini yang kuat untuk kebutuhan kreatif memperlihatkan potensi besar Indonesia dalam perkembangan ekonomi kreatif berbasis teknologi. Kolaborasi antara AI dan industri fashion juga membuka peluang bagi desainer serta pelaku UMKM untuk mengembangkan ide, memperluas pasar dan bekerja lebih efisien.
Namun, teknologi tetap ditempatkan sebagai alat bantu. Kreativitas, pengalaman, selera, serta sentuhan manusia menjadi bagian yang tidak dapat dilepaskan dari proses penciptaan karya fashion.
Dengan pendekatan tersebut, perkembangan AI tidak harus dilihat sebagai ancaman bagi industri kreatif. Sebaliknya, AI dapat menjadi partner baru yang membantu kreator mengeksplorasi ide lebih jauh, selama manusia tetap memegang kendali atas arah dan keputusan kreatif.

