JAKARTA – Tama Yuri menghadirkan album perdana bertajuk “Biar Aku Dianggap Beruntung” yang merangkum 11 lagu dalam tiga fase perjalanan emosional. Album pop alternatif ini mengajak pendengar melihat bahwa keberuntungan bukan selalu tentang hidup tanpa luka, tetapi tentang bagaimana seseorang memilih untuk tetap menjalani kehidupan setelah melewati berbagai fase sulit.
Setelah memperkenalkan sejumlah single sejak 2024, Tama Yuri akhirnya menghadirkan album penuh yang menjadi rangkuman perjalanan seseorang untuk sampai pada titik ketika dirinya dianggap beruntung. Sebelas lagu dalam album tersebut dibagi ke dalam tiga fase, yakni fase cegil, fase terpuruk dan fase menerima.
Fase cegil digambarkan melalui lagu “Canggung”, “Dua Sisi”, dan “Tetap Cinta Selamanya Cinta”. Sementara fase terpuruk hadir melalui “Duri”, “Hari yang Berat”, “Biasa Saja”, dan “Katanya Rela”, sedangkan fase menerima dituangkan dalam “Bukan Salahku”, “Sudut Pandang”, “Good Shower”, dan “Biar Aku Dianggap Beruntung”.
“Biar Aku Dianggap Beruntung” Jadi Benang Merah Album
Tama Yuri memilih “Biar Aku Dianggap Beruntung” sebagai judul album karena dianggap mampu mewakili benang merah dari seluruh lagu yang ada di dalamnya. Kalimat tersebut menggambarkan seseorang yang memilih tetap menjalani hidup dengan senyum meski berulang kali menghadapi luka dan badai.
“Untuk semua hal pahit yang datang, aku taburin gula biar tetep terasa manis dan terus tersenyum walau dunia di sekeliling menggerus. Sampai akhirnya aku dianggap beruntung,” kata Tama Yuri soal makna judul albumnya, dikutip Celebdaily.id dari siaran pers, Jumat (25/9/2026).

Dalam proses pengerjaannya, Tama Yuri berkolaborasi dengan sejumlah produser, yaitu Fareeq Angkasa, Awal Awe, Milfarasi, serta Usaha Terbaik Kita. Kolektif produser tersebut terdiri dari Yabes Yuniawan, Ikhwan Hastanto dan Lintang Larasati.
Seluruh proses pengerjaan album dilakukan di Yogyakarta dengan melibatkan banyak pihak, mulai dari perekam instrumen, pengarah vokal, pengisi vokal latar, hingga penata dan penyelaras suara. Hanya lagu “Katanya Rela” yang proses penataan dan penyelarasan suaranya dikerjakan di Jakarta.
Tama Yuri Bawa Suara Perempuan lewat Album Independen
Bagi Tama Yuri, album ini bukan sekadar kumpulan lagu, tetapi juga ruang untuk berbagi pengalaman yang tidak selalu mudah diceritakan. Ia berharap karya tersebut dapat menemani pendengar ketika berada dalam fase terberat sekaligus membuat mereka merasa lebih baik setelah mendengarkannya.
“Album ini lahir dari pengalamanku yang sulit diceritakan juga. Aku pengen pendengar ngerasa relate dan ngerasa dipahami. Aku juga pengen buktiin kalau album independen bisa punya suara yang didengar di seluruh Indonesia. Aku juga membawa semangat bahwa perempuan berhak punya suara, berhak lelah, berhak mencintai dengan caranya sendiri dan tetap berdiri di tengah semua itu,” ucapnya.
Sebagai bagian dari perilisan album, Tama Yuri juga menyiapkan aktivasi berupa workshop membuat zine di Jakarta. Kegiatan tersebut akan mempertemukan Tama Yuri dengan sejumlah pendengar untuk membuat zine yang ditemani lagu-lagu dari album “Biar Aku Dianggap Beruntung”.
“Rencana aku mau bikin workshop di Jakarta setelah album ini rilis, bareng beberapa pendengar. Kita bakal bikin zine ditemani lagu-laguku. Nanti tiap peserta bisa bawa pulang merchandise eksklusif yang dibuat dari hasil refleksi mereka,” kata Tama Yuri.
Album “Biar Aku Dianggap Beruntung” kini dapat didengarkan di seluruh layanan streaming digital. Melalui 11 lagu dan tiga fase di dalamnya, Tama Yuri menawarkan sudut pandang bahwa menjadi “beruntung” tidak selalu berarti terbebas dari luka, tetapi mampu menemukan cara untuk tetap berjalan dan menerima kehidupan.

