MarahPakar ungkap bahaya terlalu sering mengeluh, bisa membuat hidup terasa mandek. (Foto: Freepik)

JAKARTA – Mengeluhkan masalah sesekali memang bisa membuat perasaan menjadi lebih lega. Namun, terlalu sering berfokus pada hal-hal yang salah atau di luar kendali ternyata dapat membuat seseorang merasa semakin terjebak dalam situasi yang sedang dihadapinya.

Kehidupan tidak selalu berjalan sesuai rencana dan cara seseorang merespons kegagalan atau kesulitan dapat memengaruhi kondisi mental maupun hasil akhirnya. Meski meluapkan emosi saat menghadapi masalah adalah hal yang wajar, terus-menerus mengulang hal-hal yang terasa tidak adil atau berada di luar kendali dapat berubah menjadi kebiasaan yang tidak disadari.

Kebiasaan tersebut dapat memicu rasa kasihan pada diri sendiri, menguras energi dan membuat seseorang tetap berada dalam situasi yang sebenarnya ingin ditinggalkan. Kabar baiknya, perubahan kecil dalam cara memandang sebuah masalah dapat membantu seseorang beralih dari rasa tidak berdaya menuju tindakan nyata.

Peneliti perilaku sekaligus pakar pengembangan kepercayaan diri di India, Dr Shade Zahrai menjelaskan bahwa kebiasaan mengeluhkan hal-hal di luar kendali dapat secara perlahan membentuk pola pikir seseorang. Kondisi tersebut pada akhirnya memengaruhi kondisi psikologis dan membuat seseorang lebih sulit mengambil langkah yang konstruktif.

“Dengan berfokus pada hal-hal yang tidak bisa Anda kendalikan, Anda justru memperkuat rasa tidak berdaya, menguras energi dan membuat situasi terasa semakin buruk,” ujar Dr Zahrai, seperti dikutip dari Hindustan Times, Minggu (5/7/2026).

Mengapa Terlalu Banyak Mengeluh Bisa Berbahaya?

Menurut Dr Zahrai, kebiasaan mengeluh secara terus-menerus mengenai hal-hal yang berada di luar kendali bisa memberikan dampak yang lebih besar dari yang disadari banyak orang. Meski meluapkan emosi dapat memberikan rasa lega sesaat, terus memikirkan masalah yang sama berulang kali justru dapat memperkuat pola pikir negatif.

Akibatnya, seseorang menjadi lebih sulit menemukan jalan keluar dari persoalan yang dihadapi. Perasaan terjebak dan tidak mampu bergerak maju pun semakin mudah muncul.

Dr Zahrai menjelaskan bahwa langkah pertama untuk menghentikan pola tersebut adalah menyadari bahwa diri sendiri sedang terjebak di dalamnya. Meski terdengar sederhana, menurutnya, tahap ini sering kali menjadi bagian yang paling sulit.

Setelah menyadarinya, ia menyarankan empat pilihan yang bisa diambil seseorang ketika menghadapi situasi yang tidak menyenangkan.

“Saat Anda menyadari sedang mengeluh, langkah pertama adalah menyadarinya dan terkadang itu justru bagian yang paling sulit. Langkah berikutnya adalah bertanya kepada diri sendiri, saya sebenarnya memiliki beberapa pilihan di sini. Saya bisa menerima situasi ini apa adanya. Saya bisa mengubah situasinya. Saya bisa meninggalkan situasinya. Atau saya bisa mengubah cara saya melihat situasi tersebut,” katanya.

“Itulah empat pilihan yang saya miliki. Pilih salah satunya, lalu sadari bahwa jika saya terus mengeluh tentang hal ini, saya hanya akan merasa semakin buruk. Itu tidak akan membantu saya sama sekali,” ucapnya.

Ganti Kata “Harus” Menjadi “Bisa”

Dr Zahrai juga menyoroti kebiasaan penggunaan kata “harus” yang sering muncul pada orang yang gemar mengeluh. Kalimat seperti “Saya seharusnya melakukan itu” atau “Saya harus melakukan ini” ternyata mencerminkan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar rasa frustrasi.

Menurutnya, hal tersebut berkaitan dengan respons psikologis yang dikenal sebagai reactance atau resistensi internal. Kondisi ini muncul ketika seseorang merasa kebebasan atau kendalinya sedang terancam sehingga memicu dorongan untuk melawan atau menolak situasi tersebut.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kondisi tersebut juga dapat membatasi kemampuan berpikir kreatif dan melihat berbagai kemungkinan solusi. Akibatnya, seseorang menjadi lebih sulit menemukan cara baru untuk menyelesaikan masalah.

Sebagai solusinya, Dr Zahrai menyarankan untuk mengganti kata “harus” menjadi “bisa”. “Berpindahlah dari kata ‘harus’ menjadi ‘bisa’. Apa yang bisa saya lakukan sekarang? Anda belum berkomitmen pada apa pun sehingga risikonya sangat kecil.”

“Saya juga mendorong orang untuk mengambil selembar kertas dan membaginya menjadi dua bagian. Di sisi kiri, tuliskan daftar ‘Saya bisa’, yaitu semua hal yang bisa Anda lakukan saat ini,” katanya.

Ia menambahkan, “Kemudian pindahlah ke daftar ‘Saya akan’. Pilih satu, dua, atau tiga hal yang sudah Anda tuliskan lalu benar-benar lakukan. Ambil langkah tersebut.”

“Begitulah cara Anda meningkatkan rasa kendali terhadap hidup Anda sendiri. Anda mengembalikan pusat kendali ke dalam diri.”

“Caranya sangat sederhana, tetapi dapat membantu Anda keluar dari lingkaran keluhan yang tidak ada habisnya. Terkadang, yang paling dibutuhkan seseorang pada saat itu hanyalah merasa memiliki kekuatan dan melakukan sesuatu,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *