UNIQLO HijabKehadiran UNIQLO Hijab menjadi bagian dari perkembangan fashion. (Foto: UNIQLO Hijab)

JAKARTA – Merek fashion global yang mulai masuk dan menawarkan produk untuk memenuhi kebutuhan modest fashion menjadi momentum bagi desainer Indonesia untuk semakin percaya diri menunjukkan kekuatan lokal. Desainer Lenny Agustin menilai tantangan industri fashion Indonesia bukan hanya menghasilkan karya, tetapi juga membangun keberanian dan branding agar produk lokal mampu dikenal di pasar internasional.

Kehadiran UNIQLO Hijab di Indonesia menjadi salah satu gambaran bahwa kebutuhan perempuan berhijab kini semakin mendapat perhatian dari industri fashion global. Diluncurkan pada 10 Agustus 2026, koleksi ini terdiri atas tiga pilihan dengan karakter berbeda, yakni AIRism Hijab Proteksi Sinar UV, Hijab Satin dan Hijab Georgette, yang dirancang untuk mendukung berbagai aktivitas sehari-hari.

UNIQLO Hijab
Kehadiran UNIQLO Hijab menjadi bagian dari perkembangan fashion. (Foto: UNIQLO Hijab)

Bagi Lenny Agustin, masuknya pemain global ke ranah modest fashion justru tidak perlu dilihat semata-mata sebagai ancaman bagi desainer lokal. Fenomena tersebut menurutnya dapat menjadi pemicu agar pelaku fashion Indonesia semakin yakin dengan kekuatan yang dimiliki.

“Nah, ini sebagai pendorong sih kalau aku bilang, juga inspirasi. Misalnya kalau orang-orang Indonesia itu nggak dikasih inspirasi, kita itu malah yang fokus mencoba meniru yang luar ya” tutur Lenny Agustin, National Chair Indonesian Fashion Chamber (IFC) kepada Celebdaily.id di Senayan City, Jakarta, Minggu (20/9/2026).

Lenny Agustin
Lenny Agustin hadir di gelaran fashion show Indonesia Fashion Chamber (IFC) dalam acara Fashion Nation XX Edition. (Foto: Tuty Ocktaviany)

Menurut Lenny, situasi tersebut semestinya membuat pelaku fashion Indonesia semakin berani menampilkan identitas sendiri. Apalagi, Indonesia memiliki kekayaan budaya, kain tradisional, kreativitas desainer, serta pasar domestik yang besar.

“Nah, itu harusnya menjadi pendorong untuk lebih percaya diri. Kita punya sesuatu gitu,” katanya.

Tantangan Bukan pada Karya, tetapi Branding

Potensi pasar modest fashion Indonesia memang besar. Kementerian Perindustrian mencatat konsumsi fesyen Muslim dunia mencapai USD327 miliar pada 2023 dan diproyeksikan meningkat menjadi USD433 miliar pada 2028, berdasarkan State of Global Islamic Economy Report (SGIER) 2024/2025, seperti dikutip dari laman Kemenperin.

Potensi tersebut juga terlihat dari kinerja ekspor Indonesia ke negara anggota Organization of Islamic Cooperation (OIC) yang mencapai USD990 juta pada 2023, meningkat 83 persen dibandingkan USD540 juta pada 2022 dan menempatkan Indonesia sebagai negara dengan nilai ekspor tertinggi ketujuh ke negara-negara OIC. Meski demikian, ekspor fesyen ke pasar OIC masih didominasi China, Turki, dan India, sehingga penguatan daya saing dan brand recognition Indonesia di pasar global masih menjadi pekerjaan rumah.

Lenny Agustin, yang ditemui di gelaran fashion show Indonesia Fashion Chamber (IFC) dalam acara Fashion Nation XX Edition, melihat persoalan branding internasional masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu dibenahi bersama. Menurutnya, Indonesia sebenarnya memiliki modal besar, baik dari sisi jumlah pelaku maupun geliat kegiatan fashion, tetapi belum cukup kuat dalam membangun eksposur di pasar internasional.

“Menurut aku memang kurang brandingnya,” ucapnya.

Ia bahkan menilai Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu pusat fashion, termasuk modest fashion. Persoalannya, Indonesia perlu lebih serius mendatangkan media, influencer dan pelaku industri internasional agar ekosistem fashion Tanah Air semakin dikenal.

“Sebenarnya sih kalau secara event, secara skala ekspor sebenarnya Indonesia enggak kalah ya. Memang sudah bisa jadi pekan mode gitu,” katanya.

Menurut Lenny Agustin, kolaborasi pemerintah menjadi penting karena ekspansi internasional membutuhkan biaya, jaringan dan strategi yang tidak kecil.

“Cuma mungkin kekuatan brand kita di dunia, terutama untuk branding secara internasional, memang perlu kerja sama yang kuat, terutama dengan pemerintah,” katanya.

Desainer Indonesia Membawa Identitas Lokal ke Panggung Global

Masuknya brand global ke pasar modest fashion juga dapat menjadi ruang belajar bagi desainer Indonesia. Bukan untuk meniru produk global, melainkan mempelajari bagaimana kekayaan lokal dikemas sehingga dapat diterima konsumen internasional.

Bagi Lenny Agustin, batik, kebaya dan berbagai kekayaan budaya Indonesia seharusnya tidak hanya menjadi inspirasi untuk pasar domestik. Identitas tersebut justru dapat menjadi kekuatan pembeda ketika dibawa ke luar negeri.

Tantangannya, desainer juga harus memahami karakter pasar internasional. Kalender fashion global, misalnya, memiliki siklus berbeda dengan pasar Indonesia yang banyak mengikuti momentum Ramadan dan Lebaran.

“Kalau mau masuk ke pasar internasional, waktunya juga harus disesuaikan. Event fashion di Indonesia selama ini kan banyak menyesuaikan dengan momentum, seperti Lebaran dan lainnya,” katanya.

Karena itu, menurut Lenny Agustin, kesiapan menuju pasar internasional harus dibangun secara menyeluruh, mulai dari branding, jadwal produksi, desain hingga kemampuan memahami kebutuhan pasar.

Di sisi lain, ia mengingatkan bahwa besarnya pasar domestik juga dapat membuat brand lokal terlalu nyaman. Ketika pasar dalam negeri sudah memberikan permintaan yang tinggi, ekspansi keluar negeri membutuhkan keberanian tambahan karena karakter konsumen, musim, bahan dan desain dapat berbeda.

Namun satu hal yang menurut Lenny tidak boleh berubah adalah konsistensi. “Kita harus melihat naik turunnya kondisi. Kalau kita tidak bergerak saat kondisi sedang turun, sama saja kita menyerah. Jadi, kita harus tetap konsisten, baik saat sedang ramai maupun tidak,” ucapnya.

Semangat tersebut terlihat dari caranya menghadapi perubahan pasar. Lenny Agustin memilih tidak hanya menunggu konsumen datang ke butik, tetapi aktif mendatangi konsumen melalui berbagai kegiatan dan pop-up store.

“Tapi ya bisa survive sih. Sekarang aku rajin banget, enggak cuma menunggu orang datang ke butik, tapi juga aktif mendatangi mal-mal,
membuat event dan pop-up store di mal,” katanya.

Perkembangan modest fashion tidak hanya berbicara tentang seberapa banyak produk yang terjual. Lebih dari itu, industri fashion Indonesia perlu membangun identitas dan cerita yang kuat agar karya lokal semakin dikenal di pasar dunia.

UNIQLO Hijab
Kehadiran UNIQLO Hijab menjadi bagian dari perkembangan fashion. (Foto: UNIQLO Hijab)

Kehadiran UNIQLO Hijab menunjukkan bahwa hijab semakin menjadi bagian dari perkembangan fashion dan keseharian perempuan modern. Koleksi ini membawa pendekatan LifeWear yang mengutamakan pakaian sehari-hari yang sederhana, berkualitas, serta dirancang untuk menyesuaikan kebutuhan dan aktivitas penggunanya.

Bagi industri fashion Indonesia, perkembangan tersebut dapat menjadi momentum untuk memperkuat posisi di pasar global. Indonesia tidak hanya memiliki peluang sebagai pasar, tetapi juga perlu semakin berani membawa kreativitas, kekayaan budaya dan identitas fashion lokal ke panggung dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *