JAKARTA – Busana modest kini tidak lagi berhenti pada persoalan menutup tubuh, tetapi bergerak mengikuti kebutuhan perempuan yang semakin aktif dan memiliki banyak peran dalam satu hari. Desainer Hannie Hananto melihat perkembangan tersebut sebagai bagian dari karakter fashion yang memang selalu berubah mengikuti zaman, aktivitas, sekaligus identitas penggunanya.
Pandangan itu terlihat dalam koleksi yang disiapkan Hannie Hananto bersama Indonesia Fashion Chamber (IFC) Jakarta untuk ajang Fashion Nation XX Edition. Alih-alih hanya mengejar tren, koleksi tersebut mencoba menghubungkan fashion dengan identitas Jakarta.
Hannie Hananto mengatakan, pendekatan terhadap wastra dan identitas kota membutuhkan proses. Karena itu untuk koleksi yang dipersiapkan, ia memilih menggunakan teknik print dengan mengambil inspirasi dari gedung-gedung dan ikon Kota Jakarta.
“Jadi, sekarang yang bisa dilakukan adalah menggunakan print dengan motif Jakarta. Saya ingin teman-teman IFC Jakarta bisa aktif berpartisipasi dalam rangkaian acara 500 tahun Jakarta,” kata Hannie Hananto kepada Celebdaily.id di Senayan City, Jakarta, Minggu (20/9/2026).
Menurut mantan Ketua IFC Jakarta ini, penggunaan batik untuk mengangkat identitas Jakarta membutuhkan waktu lebih panjang, sementara persiapan koleksi untuk acara tertentu sering kali berlangsung singkat.
“Kalau batik itu kan perlu waktu lama, paling enggak tiga bulan, sementara ini persiapannya dadakan,” katanya.
Ikon Kota hingga Busana Sehari-hari
Koleksi Hannie Hananto kemudian mengambil inspirasi dari skyline Jakarta dan gedung-gedung ikonik kota. Namun, identitas lokal tersebut tidak diterjemahkan secara harfiah ke dalam busana.
“Skyline Jakarta, isinya kota-kota Jakarta gitu. Koleksi desainer ini beda-beda,” katanya.

Elemen gedung Jakarta dapat diterjemahkan melalui motif atau garis tertentu pada busana. Sementara itu, siluet busana tetap mempertahankan karakter modest wear. “Kalau silat saya tetap ya, baju Muslim itu ya, tetap tunik,” katanya.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa modest fashion dapat menjadi ruang untuk memadukan identitas lokal dengan kebutuhan perempuan masa kini. Fashion tidak hanya menghadirkan unsur budaya, tetapi juga tetap menyesuaikan dengan gaya hidup perempuan modern.
Hal itu sejalan dengan perkembangan UNIQLO Hijab, yang sejak diluncurkan di Indonesia pada 10 Agustus 2026 menghadirkan tiga pilihan hijab dengan karakter material dan fungsi berbeda. AIRism Hijab Proteksi Sinar UV dirancang praktis untuk aktivitas sehari-hari, sementara Hijab Satin dan Hijab Georgette memberikan pilihan styling dengan karakter material berbeda.
Dengan kata lain, modest fashion semakin bergerak dari konsep busana untuk kesempatan tertentu menjadi bagian dari kebutuhan sehari-hari. Hal tersebut juga terlihat dalam materi peluncuran UNIQLO Hijab. Koleksi tersebut dikembangkan berdasarkan masukan pelanggan dan pemahaman terhadap kebutuhan perempuan Muslim di Indonesia dan Malaysia.
“Kami menyadari bahwa kebutuhan setiap perempuan terhadap hijab tidak pernah sama, tergantung pada aktivitas, gaya hidup dan preferensi masing-masing. Kesadaran ini turut dibentuk oleh berbagai masukan yang kami terima langsung dari pelanggan sepanjang proses pengembangan koleksi ini. Masukan tersebut menjadi pijakan kami dalam menghadirkan hijab yang benar-benar relevan dengan keseharian penggunanya, apa pun aktivitas yang mereka jalani,” ujar Lisqia Lalantika, Marketing Manager UNIQLO Indonesia, ditemui Celebdaily.id di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (6/8/2026).
Masing-masing hijab dirancang untuk menjawab kebutuhan perempuan modern dengan gaya hidup yang beragam. Hijab Georgette tersedia dalam 12 pilihan warna yang mudah dipadukan dengan berbagai gaya berpakaian. Hijab Satin tersedia dalam enam pilihan warna dan dapat digunakan mulai dari aktivitas sehari-hari hingga acara yang lebih formal. Sementara itu, Hijab AIRism UV Protection dirancang dalam model segitiga instan yang praktis digunakan.
Perempuan Modern Mendorong Fashion Lebih Adaptif
Hannie Hananto melihat fashion sebagai sesuatu yang adaptif dan terus berkembang. Menurutnya, perkembangan fashion selalu bergerak mengikuti perubahan zaman dan kebutuhan penggunanya.
Pemikiran tersebut menjadi semakin relevan ketika aktivitas perempuan semakin beragam. Dalam satu hari, seorang perempuan dapat berpindah dari aktivitas profesional, mengurus keluarga, menghadiri acara hingga menjalani aktivitas sosial.
Karena itu, tren fashion tidak lagi semata-mata ditentukan oleh bentuk atau warna yang sedang populer. Faktor kenyamanan, fleksibilitas dan kemampuan sebuah busana mengikuti berbagai situasi ikut menjadi pertimbangan.
Konsep tersebut juga terlihat dari tema tren yang menjadi rujukan koleksi Hannie Hananto. Ia menyebut adanya arahan healing uniform, tetapi konsep itu bukan berarti pakaian kerja dalam pengertian konvensional. “Jadi arahnya ini bukan baju kerja,” ucapnya.
Busana tersebut dirancang agar nyaman digunakan untuk berbagai aktivitas sepanjang hari, mulai dari pagi hingga malam. Konsep ini kemudian diterjemahkan melalui pilihan warna yang tenang seperti abu-abu, dengan sentuhan warna kuning cerah agar tampilan terasa lebih hidup. “Jadi, ada kuningnya yang cerah,” ujarnya.
Kebutuhan terhadap fashion yang fleksibel juga tercermin dari pengalaman para pengguna UNIQLO Hijab yang sebelumnya diwawancarai Celebdaily.id. Ayudia Bing Slamet, Sivia Azizah dan Tantri Namirah memiliki kebutuhan berbeda terhadap hijab sesuai aktivitas mereka, mulai dari mengurus keluarga, bekerja, tampil di panggung hingga berolahraga.

Tantri, misalnya, mencoba Hijab AIRism UV Protection untuk aktivitas seperti bermain tenis, menjemput anak dan mengikuti kelas hot mat pilates. Sementara Sivia memilih Hijab Satin untuk mendukung penampilannya di atas panggung.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa perempuan modern tidak selalu mencari satu hijab untuk satu kesempatan. Mereka membutuhkan pilihan yang dapat mengikuti ritme hidup.
Bahkan, koleksi UNIQLO Hijab sendiri menggunakan prinsip tersebut. AIRism Hijab Proteksi Sinar UV hadir dalam bentuk instan dengan material yang ringan, breathable, stretchy dan quick-drying. Hijab Satin menawarkan material satin ringan dengan kilau lembut, sementara Hijab Georgette memiliki karakter ringan dan flowy dengan drape natural.
Perubahan modest fashion bukan hanya soal semakin banyaknya model hijab atau busana Muslim. Perubahannya justru terletak pada cara perempuan mendefinisikan kebutuhan mereka sendiri.
Fashion menjadi semakin personal. Ketika fashion mampu mengikuti kehidupan penggunanya, modest wear tidak lagi hanya menjadi kategori busana, melainkan bagian dari keseharian.

