JAKARTA – Komunikasi sering dianggap sebagai kunci utama dalam membangun hubungan yang sehat. Namun, seorang pakar hubungan mengungkapkan bahwa komunikasi yang berlebihan justru bisa memicu stres, konflik, hingga kelelahan emosional tanpa disadari.
Di era digital saat ini, orang semakin mudah terhubung melalui pesan instan, panggilan video, hingga media sosial. Namun, kemudahan tersebut memunculkan pertanyaan baru, apakah menjadi komunikatif berarti harus selalu tersedia dan terus-menerus berkomunikasi?
Dalam wawancara dengan Hindustan Times, Chandni Gaglani, SVP dan Head of Aisle Network, menjelaskan bahwa pola komunikasi yang sehat tidak ditentukan oleh seberapa sering seseorang mengirim pesan, melainkan oleh kualitas perhatian yang diberikan dalam sebuah hubungan. Menurut Chandni, banyak orang saat ini mengukur komunikasi dari seberapa cepat seseorang membalas pesan, mengisi setiap jeda percakapan, atau membagikan setiap pikiran yang muncul.
“Saat ini, banyak dari kita mendefinisikan komunikasi melalui ketersediaan, seperti membalas pesan dengan cepat, mengisi setiap jeda, dan membagikan pikiran begitu muncul. Ada sesuatu yang hangat dari dorongan itu karena berasal dari keinginan tulus untuk terhubung dengan orang lain,” katanya, dikutip Celebdaily.id dari Hindustan Times, Minggu (31/5/2026).
Namun, ia menilai bahwa terkadang hal paling berharga yang bisa diberikan kepada pasangan justru adalah ruang untuk bernapas.
Kualitas Percakapan Lebih Penting daripada Frekuensi Pesan
Berdasarkan pengamatannya selama hampir satu dekade terhadap cara orang membangun hubungan melalui dunia digital, Chandni menemukan bahwa hubungan yang bertahan lama tidak ditentukan oleh banyaknya pesan yang dikirim. Menurutnya, faktor yang lebih penting adalah keselarasan antara kata-kata dan tindakan, serta kenyamanan kedua pihak terhadap ritme komunikasi yang mereka bangun bersama.
“Yang menentukan hubungan bertahan lama adalah keselarasan antara kata-kata dan tindakan, serta kesesuaian dua orang terhadap ritme alami percakapan, termasuk jeda-jeda di dalamnya. Jeda tersebut sering kali memiliki makna lebih besar daripada yang kita sadari,” katanya.
Chandni menjelaskan bahwa dalam proses pendekatan atau kencan, keinginan untuk terus menjaga percakapan tetap berjalan biasanya muncul dari niat baik. Seseorang ingin membuat pasangannya merasa diperhatikan dan dihargai.
Namun, menurutnya, memberi ruang tidak berarti mengabaikan pasangan. Justru di dalam ruang tersebut rasa penasaran, antisipasi, dan ketertarikan dapat tumbuh secara alami. Ia juga melihat adanya perubahan pola pikir pada generasi muda saat ini. Balasan pesan yang tidak selalu cepat mulai dianggap sebagai tanda kedewasaan emosional, bukan sebagai bentuk ketidakpedulian.
“Balasan yang lambat kini semakin sering dianggap sebagai tanda seseorang yang berpikir matang, bukan seseorang yang cemas. Percakapan yang lebih sedikit tetapi bermakna mulai lebih dihargai dibandingkan aliran pesan yang terus-menerus,” katanya.
Rahasia Komunikasi Sehat dalam Hubungan
Chandni menegaskan bahwa komunikasi yang baik bukan berarti setiap momen harus selalu diisi dengan percakapan.
“Komunikasi yang hebat, baik dalam hubungan maupun kehidupan sehari-hari, tidak ditentukan oleh seberapa konsisten setiap momen diisi, melainkan oleh pemahaman bersama mengenai seperti apa komunikasi yang nyaman dalam hubungan tersebut,” ucapnya.
Meski memberi ruang dan menjaga intensitas komunikasi dapat menunjukkan kedewasaan emosional, Chandni mengingatkan bahwa tidak ada aturan yang berlaku untuk semua hubungan. Setiap pasangan memiliki ritme komunikasi yang berbeda. Ada hubungan yang berkembang melalui percakapan yang intens dan sering, sementara yang lain justru tumbuh melalui interaksi yang lebih tenang dan terukur.
Menurutnya, membalas pesan dengan cepat, mengirim pesan panjang, membalas dengan jeda waktu tertentu, atau bahkan mengirim pesan berulang bukanlah indikator pasti dari ketertarikan maupun ketidakpedulian seseorang. Terpenting adalah kedua pihak memahami ekspektasi masing-masing dan merasa nyaman dengan pola komunikasi yang mereka bangun bersama.
Komunikasi bukan soal mengikuti aturan tertentu, melainkan tentang menemukan keselarasan agar kedua orang dalam hubungan merasa dihargai, dipahami dan nyaman menjalani ritme komunikasi yang mereka ciptakan bersama.

