MelasmaPT Unison Medika Jaya mengajak masyarakat untuk lebih memahami melasma melalui edukasi bersama dokter spesialis kulit, dokter estetika dan penyintas melasma. (Foto: Tuty Ocktaviany)

JAKARTA – Melasma bukan sekadar masalah flek hitam di wajah yang mengganggu penampilan. Kondisi hiperpigmentasi ini dapat memengaruhi rasa percaya diri, aktivitas sosial hingga kualitas hidup, sehingga membutuhkan diagnosis dan penanganan yang tepat.

Dalam rangka memperingati Melasma Awareness Month, PT Unison Medika Jaya mengajak masyarakat untuk lebih memahami melasma melalui edukasi bersama dokter spesialis kulit, dokter estetika dan penyintas melasma. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman mengenai faktor risiko, pentingnya diagnosis yang akurat, serta perkembangan terapi melasma yang kini semakin komprehensif.

Melasma merupakan salah satu gangguan hiperpigmentasi yang paling sering ditemukan dan cukup sulit diatasi. Kondisi ini ditandai munculnya bercak kecokelatan pada area wajah yang sering terpapar sinar matahari, seperti pipi, dahi, hidung dan atas bibir. Berdasarkan berbagai penelitian, lebih dari 90 persen penderita melasma adalah perempuan, terutama pada usia reproduktif.

Masyarakat Indonesia juga termasuk kelompok yang lebih rentan mengalami melasma. Selain tinggal di wilayah tropis dengan paparan sinar ultraviolet (UV) tinggi sepanjang tahun, mayoritas masyarakat Indonesia memiliki fototipe kulit Fitzpatrick IV–V yang lebih mudah mengalami hiperpigmentasi akibat sinar matahari. Selain paparan UV, faktor genetik, perubahan hormon, cahaya tampak (visible light), hingga proses inflamasi kulit turut berperan dalam munculnya melasma.

Melasma Berdampak pada Kepercayaan Diri

Kondisi tersebut pernah dialami Margaret Vivi, penyintas melasma. Awalnya ia mengira noda di wajahnya hanyalah flek biasa, namun seiring waktu noda tersebut semakin sulit memudar dan mulai memengaruhi rasa percaya dirinya.

“Awalnya saya mengira ini hanya flek biasa. Lama-kelamaan saya jadi kurang percaya diri karena nodanya tidak kunjung memudar. Setelah berkonsultasi dengan dokter, saya baru memahami bahwa melasma memang membutuhkan penanganan yang tepat dan konsisten,” ujarnya ditemui Celebdaily.id di AMANAIA Satrio, Jakarta, Rabu (15/7/2026).

Melasma
Margaret Vivi, penyintas melasma. (Foto: Tuty Ocktaviany)

Menurut dr. Stanley Setiawan, dokter spesialis kulit, langkah paling penting dalam menangani melasma adalah memastikan diagnosis yang tepat sebelum menentukan terapi. Sebab, tidak semua noda gelap di wajah merupakan melasma dan setiap kondisi memiliki penyebab yang berbeda.

“Tidak semua noda gelap di wajah adalah melasma. Karena penyebabnya bisa berbeda, pemeriksaan oleh dokter penting agar pasien mendapatkan terapi yang sesuai,” katanya.

Ia mengatakan bahwa pengobatan mandiri tanpa pemahaman yang benar, berisiko merusak skin barrier dan memperburuk kondisi kulit.

“Salah satu terapi depigmentasi yang saya terapkan dalam praktik sehari-hari adalah redermalisasi menggunakan Skin Booster yang mengandung Hyaluronic Acid dan Succinic Acid,” ucapnya.

Melasma
dr. Stanley Setiawan, dokter spesialis kulit, langkah paling penting dalam menangani melasma adalah memastikan diagnosis yang tepat sebelum menentukan terapi. (Foto: Tuty Ocktaviany)

Salah satu pendekatan terapi yang kini digunakan adalah redermalisasi menggunakan Xela Rederm, skin booster yang mengombinasikan Hyaluronic Acid dan Succinic Acid. Terapi ini dirancang untuk membantu memudarkan hiperpigmentasi sekaligus meningkatkan hidrasi dan kualitas kulit secara menyeluruh.

Terapi Kombinasi dan Sunscreen Jadi Kunci Pengendalian Melasma

Sementara itu, dr. Ratna Yuliarviana, dokter estetika, menjelaskan bahwa keberhasilan terapi melasma membutuhkan pendekatan yang komprehensif. Menurutnya, perawatan tidak cukup hanya dilakukan di klinik, tetapi juga harus didukung dengan perawatan harian yang konsisten di rumah.

Menurut dr. Ratna, melasma memang dapat dikendalikan, tetapi prosesnya membutuhkan kesabaran dan komitmen dari pasien. Ia menekankan bahwa hasil terapi tidak dapat diperoleh secara instan sehingga konsistensi menjadi kunci utama.

“Melasma memang bisa dikendalikan, tetapi membutuhkan kesabaran dan konsistensi. Dalam praktik sehari-hari, saya mengombinasikan redermalisasi menggunakan Hyaluronic Acid dan Succinic Acid dengan Growth Factors untuk memperbaiki kualitas kulit dan mendukung regenerasi sel. Terapi ini perlu diimbangi dengan penggunaan sunscreen setiap hari agar hasilnya lebih optimal dan risiko kekambuhan dapat diminimalkan,” katanya.

Melasma
dr. Ratna Yuliarviana, dokter estetika, menjelaskan keberhasilan terapi melasma membutuhkan pendekatan komprehensif. (Foto: Tuty Ocktaviany)

Selain tindakan redermalisasi, terapi juga dapat dikombinasikan dengan AQ Serum yang mengandung Growth Factors. Kandungan tersebut berperan mendukung regenerasi sel kulit, membantu mengurangi proses inflamasi, serta mempercepat pemulihan sehingga hiperpigmentasi berangsur membaik.

Perawatan di klinik juga perlu disertai penggunaan tabir surya (sunscreen) setiap hari dengan perlindungan spektrum luas dan SPF tinggi. Langkah sederhana ini menjadi bagian penting untuk melindungi kulit dari paparan sinar matahari sekaligus membantu menekan risiko melasma kambuh.

Melalui peringatan Melasma Awareness Month, PT Unison Medika Jaya berharap semakin banyak masyarakat memahami bahwa melasma bukan sekadar masalah kosmetik. Dengan diagnosis yang tepat, terapi yang sesuai, perlindungan dari paparan sinar matahari, serta komitmen menjalani perawatan secara konsisten, kondisi ini dapat dikendalikan sehingga kualitas hidup penderita menjadi lebih baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *